Jumat, 06 Mei 2016

Karena Setiap Tempat Punya Cerita

Setiap datang ke taman kota, aku selalu teringat kamu. Iya kamu! Temanku di sosial media, dan baru sekali bertatap muka sebelum akhirnya kau menghilang dari sosial media dan memutus kontak denganku.

Waktu itu aku tersesat, bingung mencari tempat yang kau tentukan dimana kita akan bertemu. Maklumlah, aku orangnya susah menghafal jalan. Hingga akhirnya kau yang nyamperin aku. Dengan telepon masih di telinga waktu itu aku bilang, “aku di depan museum sekarang, jadi aku harus kemana lagi?” kataku sambil melihat-lihat sekitarku. Dan kira-kira tiga meter dari belakangku, dengan telepon masih di telingamu juga kamu menjawab, “padahal di hometown sendiri, gimana bisa gak hafal jalanan-jalanannya”. Aku menoleh, tersenyum. Kamu memasukkan handphone mu ke saku, dan aku melakukan hal yang sama. “gimana kamu bisa mengenali aku?” tanyaku bodoh. “pertama, kamu kan tadi bilang berada di depan museum. Kedua, suaramu kalo lagi telfon keras sekali. Ketiga, kamu gak beda jauh dengan foto-foto di profilmu”. Aku tersipu mendengar alasan ketiga. “iya dong, kan tanpa efek photoshop”. Lalu kita pun tertawa. Padahal itu pertama kali nya kita bertatap muka, tapi serasa kita sudah kenal lama. Maka setidaknya kita harus berterimakasih pada kecanggihan teknologi, bisa mendekatkan orang yang jauh, bahkan mengenalkan orang yang belum kenal sebelumnya.

Lalu kau mengajakku berjalan-jalan di taman kota, bercerita tentang apapun, mulai dari perjalananku dari Surabaya, hingga candaan-candaan lainnya.“Jadi, kamu benar-benar belum pernah kesini?” tanyamu saat itu. “iya, emang kenapa?”. “sayang sekali”. “kok sayang sekali?”. “yuk, duduk di sebelah sana”. Dia menunjuk ke sebuah bangku panjang dibawah pohon yang rindang dan enggan menjelaskan padaku maksud kalimat “sayang sekali” nya itu. Satu hal yang aku sadari, saat itu tak ku lihat dirimu yang selalu jaga image, kau sangat welcome, asyik diajak ngobrol, dan pemikir sepertinya.


Ya. Aku masih ingat semuanya, semua tempat yang pernah kita lewati di sekitar taman kota ini, bahkan rasanya senyummu masih tertinggal disana. 

Sabtu, 09 April 2016

Aku Ini Kenapa?

Cerbung: Kepingan Memori Yang Kembali
Part 1

Ririn?” suara seorang cowok memanggil namaku ketika aku keluar dari sebuah toko. Beberapa detik aku memandang wajahnya dan mencoba mengenalinya, “emm... Riyan ya?” ucapku mencoba menebak namanya. “Tepat sekali” dia memetik jarinya satu kali.“Gimana kabarmu? Ngapain disini?” lanjutnya. “Alhamdulillah baik, ini lagi belanja... Kamu sendiri? Nyari apa disini?”. “Ini ngisi bensin”. Percakapan kecil pun terjadi antara aku dan Riyan. Gak nyangka aku bisa bertemu teman SD ku disini, karena meskipun tetangga, tapi kita merantau keluar kota. Dan sejak pertemuan itu, kita keep in touch—entah lewat sms, bbm, wa atau facebook.

Aku tidak menyangka saja, seorang Riyan yang dulu bisa dibilang adalah ketua geng siswa-siswa nakal, sekarang yang begitu antusias untuk mengadakan kumpul bareng. Sejak pertemuanku dengannya di toko beberapa hari yang lalu, kita mulai mengumpulkan nomor telepon ataupun alamat facebook teman-teman kita semasa SD. Riyan yang membuat grup di facebook, akupun menyumbang alamat facebook teman SD yang aku tau. Awalnya cuma terkumpul 5 anggota, hingga bertambah menjadi 15 orang, lumayanlah... sedangkan teman seangkatan kita waktu itu ada 29. Jadi setidaknya sudah dapat 50%. Karena akhir-akhir ini facebook mulai jarang digunakan, Riyan berinisiatif membuat grup whatsap dan teman-teman setuju. Maka terbentuklah grup whatsap dengan nama “Alumni 2005”. Sejak ada grup WA itulah kita menjadi semakin lebih dekat. Sehingga, setelah itu terjadilah reuni SD setelah 9 tahun tidak bertemu.

###

Lebaran hari ke 4, 2015

Jadi, kamu yang dulu kecil mungil itu sekarang jadi gemuk gini, la? Riyan meledek Laila yang baru saja datang. Teman yang lainnya tersenyum saja melihatnya, begitupun aku. Selanjutnya, Arif dan Rahma yang datang. Ketika mereka nyamperin kita yang saat itu ada di mushola sekolah, sontak suara cie-ciee terdengar serentak dari dalam mushola. Tapi rupanya mereka bukanlah pasangan kekasih, kebetulan saja berangkat bareng karena rumah mereka searah. Arif dan Rahma mulai menyalami kita satu persatu, sambil mencoba mengenali wajah kita setelah 9 tahun tidak bertemu. “Emm... “ hayoo siapa? Sahutku sebelum Rahma selesai menebak siapa aku. “mbak Ririn kan?” dia melanjutkan. Aku tersenyum dan sedikit mengangguk, “bener kaaan, masih aja kalem kayak dulu” lanjutnya.
14 orang sudah terkumpul, memang tidak ada agenda resmi, jadi kita cuma ngumpul dan nantinya akan hangout entah kemana. Sambil menunggu kalau saja ada yang datang lagi, kita mulai berbincang-bincang.
Jadi, siapa aja nih yang sudah nikah? Masak cuma aku?” Alya melempar pertanyaan ke semua.
“Doakan aku sebentar lagi yaaa...” Diyan yang menjawab lalu terdengar suara cie-ciee dari semuanya.
“Dengar2 Mirna juga sudah nikah loh... “ sahut Izza. Tapi saat itu Mirna tidak datang.
“Rin, kamu kapan?” tiba-tiba Riyan melemparkan pertanyaan padaku. Dari dulu anak ini memang sering menggodaku, mentang-mentang aku pendiam.
“Santai aja keles, toh kalo aku segera menikah kamu juga belum punya pasangan buat diajak kondangan, kan?” jawabku.
“Alaaah rin, bilang aja kamu masih jomblo” ledek Riyan.
“Sialaan” jawabku sambil melempar kulit kacang ke arahnya.
Riyan tertawa menang, yang lain juga ikut tertawa.
“mbak Ririn, emang mau sama Riyan?” Sofi, tetanggaku menyahut.
“Emm, mikir berkali-kali dulu deh kalo mau jadiin riyan suami”. Kali ini giliran Riyan yang tertohok.
“Eh ngomong.ngomong Ririn dulu pendiam loh, kenapa sekarang jadi cerewet gini ya?” kata Riyan yang disetujui beberapa teman laki-laki yang lain.
“Dulu dulu, sekarang sekarang... Iya gak rin?” Wildan yang menjawab.
“Siip” ucapku sambil mengarahkan jempol ke Wildan.

Terdengar suara motor berhenti di depan kantor, kami yang ada di dalam mushola pun penasaran siapa yang datang. Dengan lincahnya dan badannya yang mungil Izza berlari ke jendela, mengintip siapa yang datang, Riyan dan Wildan membuntutinya.
Siapa?” rahma menyahut dari tempat kami duduk.
Fatih deh kayaknya” jawab Izza beberapa detik kemudian sambil berjalan kearah kami.
“iya, Fatih itu” Riyan menambahi.

Fatih juga teman seangkatan kita. Dia terbilang anak yang cukup pintar di kelas waktu itu, dan dia adalah lawanku untuk istiqomah mendapat ranking satu di kelas. Biasanya yang peringkat 1, 2 gantian antara aku dan Fatih, peringkat 3 nya tetanggaku, si Sofi. Meskipun akhirnya lebih banyak aku yang mendapat rangking 1, tp bagaimanapun juga aku geregetan dengan Fatih kalau dia berhasil merebut rangking 1.

Dulu waktu sekolah, aku paling suka pelajaran IPS, entah kenapa aku bisa menghafal nama-nama tokoh dalam pelajaran IPS dan bisa dibilang aku lumayan hafal letak negara-negara di dunia lewat melihat atlas, sampai akhirnya ketika berhasil menjadi juara kelas 4, aku mendapatkan hadiah globe mini dari guru kelasku, bu Indah namanya. Dan aku paling tidak suka pelajaran matematika, meskipun aku tidak bodoh-bodoh amat di pelajaran itu. Justru sebaliknya dengan aku, Sofi adalah siswi yang sangat suka dengan pelajaran yang menantang itu, bahkan sampai SMP pun dia masih menyukai pelajaran itu, yaa aku tau karena dia meneruskan di sekolah yang sama denganku. Sedangkan Fatih, dia ahli di pelajaran IPA. Suatu kali aku pernah bertanya ketika materi IPA tentang listrik seri dan pararel yang aku belum paham, dan dia tidak mau memberi tahuku. Rasanya ingin ku jitak saja kepalanya.

“assalamualaikum” Fatih masuk ke mushola, menghampiri kita dan mulai menyalami kita satu persatu. Astaga, sumpah dia terlihat keren pake banget daripada 9 tahun yang lalu. Tapi sepertinya masing songong sih..  Aku menebak-nebak sendiri.
“Ri...rin?” aku sedikit kaget ternyata dia sudah berada di depanku, “yes, exactly” jawabku sambil tersenyum. Sengaja ku jawab pakai bahasa asing karena dari kabar yang ku dengar Fatih menempuh kuliah di Jogja, gak tau jurusan apa. Entah kenapa tiba-tiba aku jadi salah tingkah begini ketika Fatih datang. Oh My Godness, semoga tidak ada yang tau aku salah tingkah. Ketika sekolah dulu, aku pernah di jodoh-jodohkan dengan Fatih karena kita sama-sama siswa yang cukup pandai di kelas, tapi itu dulu dan aku tidak menghiraukannya. Tapi, kenapa sekarang malah sebaliknya?

“Uda jam sepuluh nih? Masih mau ningguin yang lain apa langsung hangout kemana gitu?”
“ayuk berangkat, sekalian sudah lapar ini...” hehee. Arif menimpali.
Ditentukan dulu dong tempatnya” Riyan menyahut.

Dan setelah beberapa menit berdiskusi disetujuilah tempatnya yaitu di Kencana Cafe. Semuanya berangkat, tak terkecuali Fatih.
Semua segera mengambil kendaraannya. Supaya tidak bergerombol, kita juga memutuskan untuk saling berboncengan. Dari awal aku memang sudah berboncengan dengan Sofi, dan Fatih membonceng Izza. Diam-diam ku perhatikan Fatih yang menunggu izza untuk naik di jok bagian belakangnya.
Aduuh aku ini kenapa??


Bersambung...

Minggu, 03 April 2016

Catatan Tentangnya

Aku pernah sangat mencintaimu. Sangat! Bahkan kau berhasil menghapus nama beberapa lelaki yang sebelumnya pernah singgah dihatiku. And then I lay my love on you.
Tapi sekarang (insyaallah) sudah tidak lagi. Buktinya, ketika membaca lagi curahan hatiku ketika aku tergila-gila padamu, hatiku (lumayan) biasa saja. Dan aku pun berani mempostingnya. J

03 januari 2015
This night is sparkling, don't you let it go
I'm wonderstruck blushing all the way home
I'll spend forever wondering if you knew
I was enchanted to meet you..(Enchanted-Taylor Swift)
Pertama kali bertemu kamu dan sepulang dari airport nyanyiin lagu ini terus. Rasanya lagu ini cocok denganku. J

Maret 2015
Terima kasih, kamu...
Telah menggantikan sosok 'orang itu' dengan hadirmu
Telah memberi cinta baru, juga sakit baru
Telah membuatku tersenyum ketika melihat gambarmu
Telah memberi bait-bait doa baru untuk ku panjatkan
Terima kasih, kamu... Telah memberikan harapan baru
Sekali lagi, terimakasih... Untuk kamu. J

Desember 2015
Egois memang, aku memohon dengan sedikit memaksa agar Tuhan mendekatkan kita ketika Tuhan justru sedang membuatku agar melupakanmu. Tuhan maha asik.

03 januari 2016
Aku mengenalmu tapi kamu tidak mengenalku..
Kamu hadir dan mengubah segalanya. Aku masih ingat senyummu. Wajahmu yang terang dibawah sinar lampu bandara, meskipun kau telah menghabiskan 4-5 jam di dalam kendaraan selama perjalanan menuju bandara, kau masih terlihat tampan, dengan sosok pribadi yang belum pernah aku temui sebelumnya.
Aku tidak mudah menjatuhkan hatiku pada seseorang, tapi padamu aku berani bersumpah bahwa aku jatuh cinta pada pandangan pertama.

Akhir Januari 2016
Aku memanggilnya si sulung...
Cowok yang menyadarkanku tentang sebuah pepatah don'tjudge the book from its  cover.Religius iya, tapi gaya tetap dandy dan masa kini. Mungkin seperti itu deskripsi yang cocok untuknya.
Cowok yang rela resign dari pekerjaan bagusnya hanya demi ‘nyantri'-- ingin memperbaiki akhiratnya.
Cowok yang memberikan aku bukti bahwa love at the first sight itu ada. Iya, aku jatuh cinta kepadanya saat pertama kali kita bertemu pada waktu itu.
Hai, apa kabar kamu sulung?
Waktu itu, di bandara Juanda adalah pertama kali aku melihatmu, dan (mungkin) untuk terakhir kali. Karena tepat setahun setelah itu (bahkan sampai sekarang) kita belum pernah bertemu lagi. Sebenarnya aku tidak hanya ingin bertemu denganmu, aku ingin lebih dari itu...dekat denganmu, lalu.... Ah!
Lung, aku tidak tau apa yang terjadi. Tapi sejak bertemu denganmu  melihatmu pada saat itu,semua nama laki-laki yang pernah ada di pikiranku hilang. Dirimu telah menghapuskan mereka semua dari hati dan pikiranku, tapi sekarang aku tidak bisa menghapusmu dari hati dan pikiranku, meski hanya namamu saja. Bahkan ketika orang tuaku menyuruhku untuk melupakanmu karena suatu alasan tertentu.
Dan aku bisa apa? Aku tak berdaya....

Pertengahan februari 2016
Ya Allah, bantu aku melepaskan apa yang bukan milikku ini tapi telah aku genggam selama 1 tahun, bantu aku mengikhlaskannya. T.T

Pertengahan Maret 2016
Lampu kamar sudah mati, tapi masih ada sedikit sinar yang menerangi karena lampu ruang keluarga masih menyala. Well, i'm wide awake when i hear my father mention his name. Seketika rasa kantukku hilang. Oh my god, move on ku gagal setelah mendengar namanya disebut.
"Jadi kamu masih hidup, lung?" Seakan seperti itu yang ingin aku ucapkan setelah insiden 1 tahun yang lalu itu.
Jadi, dari pembicaraan yang aku dengar, malam ini bapak bertemu dengannya. Seketika kenangan pada saat itu hadir kembali. Kenapa aku harus tau yang namanya kamu? Kenapa saat itu aku melihatmu? Kenapa kau pun sempat meninggalkan fotomu di hp bapakku ketika kalian kebetulan berada ditempat yang sama? Kenapa lung? Jika kau akan pergi begitu saja kenapa kau melakukan itu?
Tidak, tidak! Aku tidak akan menyalahkanmu atas move on ku yang gagal ini. Sebaliknya, ini semua salahku, aku yang berlebihan mengartikan pertemuan singkat kita. -.-
Tuhan, aku tau tidak ada yang kebetulan di dunia ini, termasuk pertemuanku dengannya. Tapi, aku belum mengerti skenario yang Engkau persiapkan untukku, maka tuntunlah langkah hamba agar hamba tidak salah jalan, termasuk jika engkau tidak memperkenankan kami bersama. Tetapi, Engkau tau isi hatiku kan ya Allah? :))


Katanya, kalau kita mencintai seseorang, jangan melebihi cinta kita kepada Allah dan rasulnya. Karena kalau kita menyandarkan cinta kita pada seseorang maka ketika ditinggalkan kita akan merasa sakit, sedangkan kalau kita mencintai Allah, Allah tidak akan pernah meninggalkan kita. Kalau kita menitipkan cinta kita hanya pada Allah, maka Allah juga akan mendekatkan kita dengan orang yang menitipkam cintanya hanya pada Allah. Ternyata, selama ini aku telah salah...

Jadi, untuk yang mengalami masalah percintaan serumit saya.. tidak usah bersedih, Allah telah merencanakan sesuatu yang indah dan terbaik untuk kita. Dan Dia akan memberikannya kepada kita pada waktu yang tepat. 

Minggu, 13 Maret 2016

Menyederhanakan Cita-cita

Dulu sewaktu kecil, ketika ditanya tentang cita-cita, banyak dari kita yang menjawab ingin menjadi dokter, pilot, pramugari, astronot, polisi dan sebagainya. Ketika SMP kita sudah mulai bisa berfikir seperti “gimana mau jadi dokter kalau baru melihat darah saja sudah takut?” atau “tinggiku sepertinya tidak memungkinkan untuk menjadi pramugari”  atau “aku tidak ingin menjadi dokter, aku ingin menjadi guru saja karena menjadi guru itu lebih enak” dsb. Semakin tinggi sekolah, cita-cita menjadi lebih sederhana dan disesuaikan dengan bakat dan hobi yang dimiliki. Misalnya, ketika SMA suka dengan anak-anak kecil sehingga ingin menjadi guru, punya hobi melukis sehingga ingin menjadi pelukis dsb. Atau, sudah mulai berfikir logis seperti,” aku ingin menjadi guru, ingin mengajari anak didikku agar bisa membaca dan menulis, biar dapat pahala yang terus mengalir kalo besok akhirnya anak didikku menjadi anak yang terpelajar”. Hingga ketika kuliah, cita-cita menjadi sangat sederhana lagi, ingin menyelesaikan skripsi dan lulus tepat waktu, berapapun nilainya sudah tidak penting, yang penting lulus, mengingat sulitnya kalau mau bimbingan dan banyaknya revisi. Hehehe. Tentu saja itu bercanda, untuk anak-anak yang menempuh kuliah biasanya cita-citanya adalah setelah lulus langsung bisa dapat kerja, apapun itu. Meskipun tidak linear dengan jurusan yang telah dipilih sebelumnya. Yang penting dapat kerja, mengingat susahnya mencari pekerjaan. Daripada jadi pengangguran?

Mungkin alurnya memang seperti itu, ketika sudah dewasa semua bisa saja berubah. Yang dulu bercita-cita menjadi pelukis, ternyata setelah lulus kuliah di terima kerja di bank. Siapa tau?? Seakan ketika tumbuh dewasa seseorang hanya perlu berkomitmen dalam bekerja untuk mempunyai penghidupan yang layak.

Begitupun denganku, dulu aku juga punya cita-cita yang muluk, dan juga  menjadi semakin sederhana seiring aku bertambah dewasa. Beberapa bulan yang lalu, setelah lulus kuliah aku berencana untuk menetap di Surabaya dan mencari kerja menjadi guru disana (karena cita-citaku ingin menjadi guru) dan melanjutkan S2. Tapi ternyata Tuhan berencana lain, Dia mempertemukanku dengan beberapa kejadian yang memaksaku untuk tinggal di rumah (sementara) setelah lulus kuliah. Hingga akhirnya orang tua menghimbau agar aku tinggal di rumah saja dan tidak usah kembali ke Surabaya. Berat? Tentu saja. Shock? Iya. Tapi akhirnya ku turuti juga permintaan orang tuaku itu. Aku positive thinking saja bahwa ini memang sudah waktunya aku berbakti kepada orang tua setelah 10 tahun merantau, ada banyak hal juga yang harus aku pelajari dan perbaiki di kampung halaman agar aku menjadi lebih baik, juga dengan harapan semoga kampung halamanku menjadi lebih baik dengan pengalaman yang aku bawa dari Surabaya. 
Aku menyadari itu semua, bahwa aku tidak melulu harus menuruti ego dan ambisiku. Cita-citaku menjadi lebih sederhana sekarang, ingin bermanfaat di kampung halaman. Bahkan saat ini, ketika ditanya tentang ingin melanjutkan ke S2 atau tidak, aku lebih memilih untuk mencari pengalaman kerja dulu, meskipun cita-cita untuk melanjutkan S2 masih ada.

Begitulah, meskipun cita-cita menjadi semakin sederhana, bukan berarti kita gagal menggapai cita-cita kita, bukan berarti kita tidak kuat untuk mewujudkan cita-cita atau mimpi-mimpi kita. Tapi, kita mempertimbangkan hal-hal yang lebih bermanfaat yang ada di lingkungan sekitar kita, dan berusaha untuk membantu memperbaikinya. Bukankah sebaik-baik kita adalah yang bermanfaat untuk orang lain? Pun, ketika kita bisa membuat orang lain bahagia, kita sendiri juga akan ikut merasa bahagia. So, jangan pernah gengsi ketika kamu harus menyederhanakan cita-cita atau mimpi!! :))

Kamis, 12 Juni 2014

Good Bye CALL 1


First, I thank to the God because finally I have already finished CALL 1 subject in this semester. I feel that I can breathe freshly because I’m not worry to do assignment every week. Yeah, in CALL 1 subject I and my friends never come to the class, we have online course during the semester, but the assignment is every week.  It feels so short after spending 14 weeks for doing assignment every week.

Second, I thank to Mr. Syaifudin for being our kind and inspiring lecturer who recognizes us to the schoology, who tells us that learning technology is really important; especially nowadays most of people, even students are addicted in it. And we, ask teacher, should use it for teaching to make it more interesting. Beside, thank for guiding us to complete assignments with clear and detail explanation, and for being patient in answering our questions via email, although about the assignments or outside of it. 

CALL is elective subject, so if this semester I take this subject, in the next semester (7th semester) I should take CALL 2 subject. Online course is nice, but I hope that in CALL 2 subject, we can have both online course and offline course (meeting face to face in the class), moreover, my learning style is visualization.

Well, it is really great after I have finished this subject, I really feel that I have a lot of new knowledge about technology.

The last, let me say GOOD BYE CALL 1, WELCOME CALL 2, and SEE YOU in CALL 2, Mr. Syaifudin. ^^

Well, I am ready to face CALL 2 although it will be more challenging than CALL 1. ^^

Self-Directed Professional Development

Well, this is the last session for doing CALL 1 assignment during this semester, and I can smile wider and sweeter because of it. I can say that this last assignment is not too difficult. What we have to do is we should join a group that is provided in internet, and than we are asked to comment in discussion forum there, and we must take the screenshoot of it. It is simple, right? so that the tittle of this project is Self-Directed Professional Development.

So, here the example of groups that we can use and join,

Beside the tools that mentioned above, we can use social media like Facebook, Twitter, Path, etc. So, there are many discussion forums that we can find in the internet.

Addition, the topic for joining discussion in my project is TEFL/TESOL. So we should look for the discussion forum that talks about TEFL or TESOL. And this is the result of my project.


Senin, 09 Juni 2014

The Last Assignment for CALL 1

Well, this is the last week for me doing CALL 1 project when I write this post. It means that I have done thirteen assignments for CALL 1 project (now I’m doing the fourteenth assignment), and I could say that I have done all my assignments well (yeah, because I always submit it before the deadline). Alhamdulillah… :) 

So far I study CALL 1, I felt it’s really challenging for me, because my basic about computer is not very good, but I was always satisfied after doing the assignments in CALL 1, because I always get new knowledge every week, like how to make timeline, mind mapping, blog, poster, and of course it is using technology.

From the first assignment till this last assignment, the most complicated assignment is session 5, 7 and 10; they were about making mind mapping, integrated skill and Skype for teaching speaking. Mind mapping is group project, but it was really wasted much time to do it, even integrated skill, the complicated thing is in reflection task, because I confused what I should write to make poster, and in session 10, we must record our conversation using Skype, it is difficult because Skype need strong internet connection, and we can’t find it easily. The most interesting task is making hot potatoes, comics, and blogging.

Of course I have reason why I take this subject in this semester, and will be continued to the next semester in CALL 2. It is because I want to increase my knowledge in using technology, so when I become a teacher one day, I can use it to make my teaching learning process more interesting for me and my students. ^^