Tampilkan postingan dengan label Fiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiction. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 Januari 2018

Siapa yang salah???

Dari sudut pandang: Alin

Kenapa sih aku selalu berada di situasi dan kondisi yang kurang menguntungkan? Aku dekat dengan ini ada yang marah, aku dekat dengan itu ada yang cemburu. Aku ini harus bagaimana? Salahku dimana?
Ini masalahnya sama saudara sepupu, aku dekat dengan temannya sebagai adik kakak ketemu gede, dia kira aku pacaran, aku juga tau kali kalo dia naksir sama kakakku itu, mana tega aku nikung dia. Aku kan deket sama temannya itu sebenarnya juga bermaksud supaya dia bisa dapat perhatian lebih dari kakakku, tapi dia malah salah paham, dan kak Arul juga gak suka sama dia. Aku harus berusaha gimana lagi? Sedangkan rasa suka gak bisa di paksa.
Aku ini cuma gadis yang senang berteman dengan banyak orang, dan tidak masalah teman itu bukan dari teman sekelas atau seangkatan, kakak angkatan oke, adik angkatan juga oke. Aku suka berteman dengan banyak orang karena aku bisa dapat banyak pelajaran dan pengalaman dari mereka.
Di sosial media pun aku suka bertemu dengan orang-orang baru. Tau tempat-tempat baru dan dapat banyak informasi. Bisa kenal orang jauh, juga bisa kenal tetangga yang lama tidak bertemu karena terlalu lama merantau. Farhan namanya, tetangga, pas sekolah satu angkatan diatasku. Kuliah di Jogja. Enak diajak sharing dan diskusi. Lama-lama aku tertarik padanya. Aku tidak tau dia juga tertarik balik padaku atau tidak, tapi tak jarang dia menggodaku dengan kata-kata yang seakan menunjukkan bahwa dia tertarik balik denganku. Entah itu serius atau sekedar gombalan. Tapi aku tidak masalah dengan itu. Yang terpenting ku jalani dulu kedekatan kita, karena aku sangat menikmatinya.
Hidupku berjalan tenang sebelum akhirnya aku tau kalo sepupuku juga menyukai Farhan. Langsung aku salahkan Farhan seketika, kenapa dia bisa memberikan harapan palsu kepada banyak cewek? Lagian dia kan pasti juga tau kalo Aira itu sepupuku? Sumpah yaa, aku langsung illfeel sama yang namanya cowok sejak saat itu.
Ini bukan hanya tentang aku marah sama Farhan, tapi juga aku mikir aku bermasalah lagi dengan sepupuku. Apa aku harus melepaskan Farhan demi kebaikan hubunganku dengan sepupuku? Padahal aku sebenarnya juga suka sama Farhan?
Duh kan jadi bingung.

##
Dari sudut pandang: Aira

Aku tidak tau kenapa setiap yang dekat denganku selalu direbut oleh sepupuku. Dulu, waktu masih sekolah menengah keatas dia dekat dengan Arul, teman sekelasku yang kebetulan saat itu aku sukai, tapi aku tidak pernah bilang kepadanya. Katanya, Alin dan Arul waktu itu cuma adik kakak, ya, sepupuku itu memang berada satu tingkat dibawahku, dia lebih muda 1 tahun dari aku dan Arul lebih tua satu tahun dariku. Tapi, jaman seperti ini, siapa yang masih percaya dengan status adik/kakak ketemu gede? Pasti ada hubungan lebih dari sekedar adik dan kakak. Apa itu cuma untuk menutupi agar tidak terlalu ketahuan kalo mereka sedang.... Pacaran? Alin Alin...suka banget sih ngerusak kebahagiaan orang lain, termasuk kebahagiaan saudara kamu sendiri.
Entah berapa lama hubungan mereka dulu, tapi aku mengetahuinya ketika Salma, teman dekatku bilang bahwa Arul telah memberikan bubur dan apel merah ketika Alin sakit, manja banget kan dia! Pasti itu Alin yang minta! Tapi sekitar satu bulan setelah itu entah mereka sudah putus atau belum, sepertinya hubungan mereka telah menjadi renggang. Itu bisa kubuktikan ketika Arul mulai pdkt dengan mantan pacarnya yang juga seangkatan denganku tapi beda kelas. Syukurlah. Setidaknya aku tidak bermusuhan dengan sepupuku sendiri.
Setelah saat itu hibunganku dengan Alin mulai membaik dan semakin membaik ketika kita betambah dewasa dan menempuh kuliah. Kita kuliah di kota yang berbeda. Hingga suatu saat ketika libur kuliah Alin bertanya, “kalau menurut kamu, apa maksud dari kata “kamu itu asik yaa? Sesekali dinner bareng yuk?” Ya, aku memang juga bersalah karena tidak bertanya dulu siapa orangnya yang bilang begitu, langsung aku jawab “itu artinya dia tertarik sama kamu”. Hingga akhirnya aku tau yang bilang seperti itu adalah Farhan, tetangga kita tapi agak jauh, yang selama aku kuliah ini aku juga menaruh hati padanya. Kenapa selalu kamu lin yang merusak kebahagiaanku? Bahkan dengan PDnya kamu cerita tentang Farhan dan chat romantismu dengannya didepanku. Ingin rasanya ku tampar kamu saat kamu tertawa ketika menceritakannya.
Dan akhirnya, kamu tidak bodoh2 amat, kamu mulai curiga dengan raut mukaku ketika kamu menceritakan tentang Farhan, sampai kamu tau dan kamu sok kelihatan bingung harus bagaimana. Apa kamu merasa bersalah lin? Sekeras apapun kamu berusaha untuk memperbaiki hubungan kita saat ini, kamu gak akan bisa lin. Aku belum bisa memaafkanmu.

##
Dari sudut pandang: Arul

Memang jamannya kalau lagi di pondok, bagi seorang laki laki, akrab dengan lawan jenis merupakan tambahan semangat tersendiri. Untung saja pondok ini berisi putra dan putri. Aku tidak bisa membayangkan jika pondok ini hanya berisi cowok saja. Pasti membosankan.
Alin namanya, adik kelas, lucu, lugu, imut dan lumayan pintar di kelasnya. Sering ketemu dia ketika dia piket kelas, aku melihatnya dari kelasku yang berada di depan kelasnya, tapi terpisahkan oleh taman kecil sekolah. Dia anaknya asik sekalo diajak ngobrol. Semakin dekat dengan dia, dan teman temanku menyebut kami sebagai adik kakak. Ya, wajarlah, dia manggil aku kakak karena aku kakak kelasnya dan aku memanggilnya adik karena dia adik kelasku. Apa ada yang salah?  Meskipun dekat dengan Alin, saat itu gak ada perasaan lebih selain dia adik kelas terakrabku. Aku sering bercerita tentang cewek yang aku sukai ke dia. Dan menariknya, dia juga bisa memberi saran-saran yang begitu bermanfaat bagiku. Bisa aku bilang dia bisa juga menjadi dewasa. Aku juga cerita kepadanya bagaimana saudara sepupunya caper sekali denganku. Dia menyuruhku untuk membalas perhatian sepupunya, tapi bagaimana mungkin bisa? Aku tidak suka dengan sepupunya itu. Pertanyaan mematikannya, “jangan bilang kalo kakak deket denganku biar sepupuku cemburu?” dan aku bingung menjawab gimana.
Lama-lama dia ngerasa gak enakan dengan hubungan ini. Aku ingat sekali apa yang dia bilang, “aku takut kedekatan kita ini malah akan membahayakan aku sendiri, juga diri kakak. Aku dengan sepupuku, dan kakak dengan doi kakak. Setelah ini kita jangan dekat dekat lagi yaa. Kakak juga harus berani setelah ini, kalau suka dekati, lalu tembak, jangan diam saja. Cowok gentle gak seperti itu.
Dan benar saja, setelah itu kita mulai merenggangkan hubungan kita, dan aku berani mendekati doi. Alin benar. Apapun resikonya, jika kita suka seseorang, kita harus berani mengungkapkannya, siapa tau seseorang yang kita sukai juga menyimpan perasaan yang sama. Seperti doi ku. Ternyata diam diam dia juga menyukaiku.

##
Dari sudut pandang: Farhan

Sebuah gebrakan baru dari sosial media yang lebih mudah digunakan dan mulai menggeser keberadaan email, mig33 dan friendster. Facebook namanya, sebuah sosial media yang bisa menghubungkan orang di seluruh dunia dengan lebih mudah. FB, begitu facebook sering disingkat, mulai sering digunakan ketika smartphone semakin marak dan mulai dimiliki banyak orang. Aku pun bersyukur, karena dengan adanya FB ini, aku bisa mempraktekkan bahasa asing yang pernah ku pelajari di bangku sekolah dan kuliah. Caranya? Ya dengan mencari teman FB dari negara lain.
Di sisi lain, karena FB juga, aku jadi kebal dengan orang-orang di kampung halamanku, setelah umurku belasan tahun sampai saat ini aku selalu menjadi anak rantau. Rasanya ada kebahagiaan tersendiri ketika kenal dengan orang-orang di kampung halaman lewat sosial media, lebih-lebih anak-anak mudanya. Aku jadi tau informasi tentang keadaan di kampungku lewat update-an mereka.
Alin namanya, gadis remaja, ceria dan peduli. Sepertinua dulu aku tidak pernah tau anak ini sebagai tetanggaku. Umurnya kira-kira 1 atau 2 tahun dibawahku. Anaknya asik sekali, tawanya renyah. Aku suka ngobrol dengan dia, lebih-lebih setelah tai ternyata kita adalah tetangga. Kadang-kadang aku bertanya-tanya pada diriku sendiri, dia care seperti itu hanya kepadaku, atau kepada semua orang?
Sering juga aku menggodanya, dan dia menanggapinya, tapi sikapnya yang peduli itu membuatku bingung, apakah yang di lontarkannya itu serius atau hanya guyonan biasa. Sebenarnya, dibalik godaanku, aku juga ingin tau, dia sudah punya pacar atau belum. Kenapa cewek seperti itu sulit di tebak? Aku kan jadi maju mundur kalau ingin mendekati dia.
Akhir-akhir ini, dia seperti menjauhiku, aku tidak tau, apa aku punya salah sama dia? Apa ada kata-kataku yang pernah melukai perasaan dia? Dia masih menjawab ketika ku chat, tapi nadanya sudah tidak seceria sebelum-sebelumnya dan jawabannya lebih singkat daripada biasanya. Pernah ku tanya kenapa dia berubah, dan akupun sekalian minta maaf kalau misalnya ada salah, tapi dia menjawab "tidak ada apa-apa". Tidak ada apa-apa nya cewek itu kan yang bikin cowok merasa bersalahnya berkali-kali lipat. Cewek memang susah di mengerti.

##

Poin yang dapat diambil dari ke empat cerita pendek diatas adalah, ketika suatu hal atau masalah hanya dilihat dari satu sudut pandang saja, dalam cerita diatas ketika suatu masalah hanya dilihat dari sudut pandang aku, maka tidak akan ditemukan kebenarannya selain membenarkan diri sendiri. Tapi ketika dilihat dari semua sudut pandang, kita bisa melihat bahwa semua terjadi tanpa kesengajaan dan tanpa maksud menyakiti siapapun.
Yuk, mulai belajar untuk memandang hal apapun dari berbagai sudut pandang.

*Not a true story

Selasa, 26 Desember 2017

Dear Diary...

Dear diary,
Akhirnya setelah hampir 2 tahun putus dan tidak bertemu dengannya, kini kita dipertemukan kembali dalam sebuah acara tak terduga.
Aku mengikuti pelatihan EO di Trawas, Mojokerto. Dan disanalah aku bertemu dengan dia. Dia disini bukan sebagai peserta sepertiku, tapi sebagai panitia pelaksana. Kau tau apa yang aku rasakan ketika dia berdiri di depan dan memberi materi pelatihan kepada para peserta? Deg. Dan tiba-tiba saat itu semua kenangan kita dahulu hadir kembali, semuanya berputar-putar di kepalaku.
Aku tidak yakin dia tau kalau aku ada dalam pelatihan itu, mungkin jikalau dia melihat daftar nama peserta yang jumlahnya sekitar 120 orang, dia tidak akan menyangka bahwa nama ALANA ALTHAFUNISA adalah aku. Mungkin dia akan mengira itu adalah nama orang lain yang kebetulan mirip dengan namaku.
Dear diary,
Sejak hari aku melihatnya sebagai pemateri waktu itu, jujur aku sering memikirkannya. Entah aku ingin 1 bulan disini berjalan dengan cepat atau malah sebaliknya. Feelingku masih mengatakan bahwa dia belum tau kalau aku ada disini, atau dia tau tapi cuek saja denganku? Ah, sepertinya yang pertama.
Satu hal yang aku suka dari dia sejak dulu, dan aku menikmatinya lagi hari-hari ini, aku suka mendengar dia terbahak. Entah kenapa aku selalu ikut tersenyum dan ikut bahagia setiap mendengar dia terbahak. Meskipun aku tidak tau bagaimana keadaannya paska kita putus, tapi setidaknya ketika mendengar dia terbahak aku yakin dia sedang bahagia.
Dear diary,
Hari ini minggu kedua aku mengikuti pelatihan ini. Tapi belum ada yang berubah. Sepertinya dia benar-benar tidak tau kalau aku ada disini. Mungkin itu lebih baik. Daripada kalau dia melihatku, move on yang sudah dia jalani akan kembali terguncang. Biarlah, biar aku saja yang hatinya berantakan setelah mengetahui dia ada disini. Karena, aku lebih pandai berpura-pura dan menutupi perasaan ini, kan?
Sebenarnya, jika dia mengenaliku, jika dia menyapaku, ada banyak sekali pertanyaan yang ingin ku ajukan padanya—jika aku berani. Bagaimana kabarnya? Bagaimana kabar orang tuanya? Apakah dia sudah punya pengganti diriku? Apakah dia bahagia? Apa saja kesibukannya? Dimana dan dengan siapa dia sering menghabiskan waktu? Aku ingin tau semuanya.
Dear diary,
Kau tau? Dia kekasih terbaik yang pernah ku miliki. Dia lelaki yang tidak banyak omong, tapi justru itu yang membuat lelaki terlihat cool di mata cewek kan?. Aku suka dengan isi kepalanya, dengan sudut pandangnya yang berbeda dengan kebanyakan orang. Dia tidak (terlalu) suka menonton sepak bola. Dulu, pernah ku tanya alasannya kenapa dia tidak suka menonton sepak bola, karena kebanyakan lelaki suka dengan olahraga yang satu itu. Aku saja yang perempuan suka menonton sepak bola. Ternyata, dia melihat sepak bola dari sudut pandang lain. Jawabannya waktu itu, "sepak bola sudah di jadikan bisnis oleh orang-orang yang ada di lingkarannya, oleh sponsor-sponsor, sepak bola sudah tidak murni permainan lagi". Klasik! :)
Dia tau aku suka senja, ketika kita keluar dia juga sering menanyaiku ingin melihat matahari terbenam atau tidak, lalu kita akan mencari tempat yang bisa melihat matahari terbenam, tidak mewah, kadang di lantai atas gedung di kampusnya, kadang di pematang sawah, kadang di pinggir jalan raya, kadang di pantai. Dimana saja yang penting bisa melihat matahari tenggelam, itu sudah cukup membuatku bahagia. Meskipun ketika menikmati matahari tenggelam, dia cuma diam saja. Aku tidak tau, diamnya itu juga menikmati, atau membiarkan aku menikmati dan dia tidak ingin mengganggu. Karena setauku, dia tidak begitu mengagumi sunset seperti aku, tapi selalu menemaniku. :)
Dear diary,
Setelah begitu banyak cerita dan waktu aku habiskan dengannya, setelah kita saling mengenal dan memahami satu sama lain, hanya dengan sebuah alasan rumahku terlalu jauh dari rumahnya, entah kenapa orang tua kita tidak menyetujui hubungan ini. Tidak perlu ku jelaskan bagaimana perasaanku dan perasaannya waktu itu. Kita sama-sama terluka, sama-sama hancur. Sampai akhirnya kita putus baik-baik, menuruti apa mau orang tua kita. Dan akhirnya waktu lah yang membantu memperbaiki segalanya. Dan waktu pula yang mengingatkan lagi semuanya di acara pelatihan ini.
Dear diary,
Sudah hari ke 17. Ingin rasanya aku menyapanya terlebih dahulu, tapi aku tak sanggup. Benarkah dia tidak tau aku ada disini? Benarkah dia tidak pernah sedikitpun melihat wajahku diantara para peserta pelatihan ini? Aku mulai galau.
Dear diary,
Ini hari ke 21. Aku harus bagaimana?

Minggu, 24 September 2017

Jika Istrimu Adalah Seorang Pecinta Sepak Bola

Postingan ini terinspirasi setelah membaca project #CeritaJika milik Kurniawan Gunadi.
Menonton sepak bola adalah hobi mayoritas kaum adam. Menonton sepak bola itu identik dengan bangun tengah malam, lupa daratan ketika sudah melihat seniman lapangan hijau kesayangannya beraksi, dan taruhan.
Lalu, bagaimana jika istrimu adalah seorang pecinta sepak bola?
Sayang, kau tak perlu khawatir aku tidak bisa menyelesaikan pekerjaan rumah dan tugasku sebagai seorang istri karena keasyikan menonton club favoritku bertanding. Meskipun aku menyita waktu tidurku untuk menonton sepak bola, keesokan harinya aku akan tetap menyiapkan sarapan untukmu, menyiapkan baju kerjamu dan mengurus rumah seperti biasanya. Karena menonton sepak bola hanya hobiku, dan itu tidak akan membuatku lupa akan kodratku sebagai seorang wanita dan istri.
Jika kau menawariku untuk jalan-jalan, jangan marah kalau aku akan memintamu mengajakku pergi ke stadion untuk menonton pertandingan live, menikmati euforia stadion di tengah gemuruh para supporter, daripada duduk manis dan tenang menonton film di bioskop. Meskipun aku tau sayang, niatmu adalah memanjakanku seperti perempuan-perempuan lainnya, tapi aku suka itu. Kau tidak keberatan kan, sayang?
Sayang, kau mungkin merasa jika seorang perempuan suka menonton sepak bola adalah karena dia mengidolakan salah satu pemainnya. Kau juga tidak perlu cemburu jika aku begitu mengidolakan kiper Chelsea, meskipun ganteng, kau tetap menjadi idola pertamaku.
Sayang, jika kau juga pecinta sepak bola sepertiku, kau tak perlu mengorbankan malam minggumu untuk mengajakku ke taman atau menikmati kopi di kafe, sedangkan tim favoritmu sedang bertanding. Karena dengan senang hati akan ku temani kau menonton tim favoritmu itu, dan ku buatkan kopi beserta camilan untuk menemani kita menonton tv. Aku tidak akan marah ketika kau lebih fokus ke tv daripada mendengarkan ocehanku. 
Sayang, jika ternyata kita punya tim favorit yang berbeda atau tim kita adalah rival. Aku tidak akan memaksamu untuk pindah menyukai tim favoritku. Aku juga tidak akan berdebat kusir denganmu tentang tim siapa yang lebih unggul, tapi kita akan saling mendukung dan kita akan menjadi contoh kerukunan antar fans sepak bola.
:))

Senin, 21 Agustus 2017

An Impressive Two And A Half hours In The Train

Aku mengambil tempat duduk di dekat jendela, untung dapat nomer tempat duduk yang menghadap ke depan, sehingga kepalaku tidak pusing selama perjalanan. Beberapa saat kemudian, seorang pemuda mencocokkan nomer di tiketnya dengan nomer diatas jendela kereta. Mengetahui kebingungannya, akupun bilang “8D?” “iya” jawabnya. “Saya 8E, gak masalah kan anda duduk disini?”. Kataku sambil mempersilahkan dia duduk di sampingku. Tanpa perlu penjelasan lebih lanjut sepertinya dia mengerti bahwa perempuan lebih suka duduk di dekat jendela agar merasa terlindungi, dan agar perempuan bisa menikmati pemandangan atau sekedar bersandar di jendela ketika dia bepergian tanpa pasangan. Errrrr
Kereta mulai melaju meninggalkan stasiun Bojonegoro. Tempat duduk di depanku baru terisi 1 orang, itu artinya ada 1 orang lagi yg belum naik, mungkin akan terisi di stasiun berikutnya. Ku lirik pemuda di sampingku, dia mengeluarkan sebuah buku dari ranselnya. Tiba-tiba aku teringat kisah di novel critical elevennya Ika Natassa. Ada 11 menit paling krusial ketika naik pesawat, 3 menit ketika take off dan 8 menit sebelum landing. Lalu, apa yang akan terjadi denganku? Apakah aku akan diam saja dan kita tidak akan saling kenal setelah turun dari kereta? atau malah sebaliknya? Setelah berfikir beberapa saat, okay karena tadi aku menyabotase tempat duduknya, tak apalah aku yang akan memulai percakapan dengannya dulu. Hey, apakah aku akan terlihat ganjen ketika melakukan itu? Aku membatin, memonyongkan bibirku tanda ragu-ragu dengan rencanaku. Dan aku tersadar bahwa pemuda di sebelahku melihat kearahku ketika aku memonyongkan bibirku tadi. Duh malu sekali. Lalu aku tersenyum kepadanya dan mengangguk sebagai tanda permintaan maaf karena sikapku tadi.
“turun dimana?” finally kalimat itu keluar dari mulutku.
“benowo, kamu?” katanya.
“wonokromo”
“oohh” dia mengangguk.
Milea. Ku lihat judul buku yg di bawanya. Aha! Aku tau buku itu.
“Eh, katanya serial Dilan mau di angkat ke layar lebar ya?”
Dia sedikit menghadapkan badannya ke arahku, antusias karena aku ternyata tau tentang buku yang di bacanya. “katanya, si. Beritanya seperti itu. Kamu sudah baca novelnya juga?” dia bertanya padaku.
“Baru baca yang Dilan 1 sama 2, yang Mileanya belum.”
“suka gak?”
“suka laah, banget. Sampe baper, sampe pingin punya pacar yang kayak Dilan” jawabku tersenyum dan tanpa melihat ke arahnya. “Gimana kisahnya yang Milea, Suara dari dDilan?” lanjutku.
“belum selesai baca, baru setengah.” Jawabnya sambil memainkan novel yang di pegangnya.
“pernah baca artikel, ada beberapa artis yang di sebut-sebut bakal jadi Dilan. Kayak Reza Rahadian, Herjunot Ali, Vino G Bastian, Adipati Dolken dan banyak yang lainnya. Tapi aku lebih setuju Adipati Dolken sih, bad boy nya ada banget, cakep lagi.” Aku melihat ke arahnya ketika mengucapkan kata terakhir. “Kalo kamu kira-kira setuju siapa?” ku tanya pendapat dia.
“emmm belum ada pandangan si, tapi kayaknya Adipati Dolken cocok deh. Yah, bagaimanapun,  di tunggu saja lah. Pidi baiq pasti gak asal-asalan memilih orang untuk memerankan Dilan, kan? Dan saya juga termasuk orang yang sedang menunggu untuk itu. Hehe.”
“pinjam bukunya bentar boleh? Aku belum punya yang Milea, penasaran sama endingnya”
“baca aja dari awal” dia menyerahkan bukunya kepadaku.
“ya gak cukuplah waktunya kalo baca dari awal” aku menjawab sambil tertawa.
Ku buka novelnya. Membuka halaman-halaman awal, tengah, lalu terakhir. Aku cuma membaca secara garis besarnya saja, setidaknya aku sudah tau endingnya.
Kereta sudah berhenti di stasiun Lamongan, tidak terasa, dan tempat duduk di depanku kini juga sudah terisi orang.
“Sudah tau endingnya” kataku tersenyum sambil memberikan novel kepada pemiliknya. “Sayang sekali mereka tidak bersama”.
“sudah sudah jangan cerita, nanti aku males baca bukunya kalo dengar kisahnya dari orang lain.” Katanya sambil tersenyum.
“Hahaha oke oke. By the way, makasih yaa sudah di pinjami bukunya.”
“ya, sama-sama.” Jawabnya.
Aku menguap berkali-kali, mulai mengantuk. Ku pakai masker yang dari tadi ku biarkan tersangkut di leher, lalu menyandarkan kepalaku ke jendela kereta. Dan akupun tidak tau yang terjadi setelah itu. Tertidur.
Suara orang-orang berjalan dan berbicara membangunkanku. Ternyata kereta sudah sampai di stasiun Pasar Turi Surabaya. Pantas saja banyak yang turun disini. Dan itu artinya tinggal 2 stasiun lagi aku akan sampai di Wonokromo. Aku menoleh ke tempat duduk sebelahku. Sudah kosong, aku sedih tidak mengetahui dia ketika turun, atau setidaknya ucapan perpisahan kita. 3 menit pertama yang berkesan, tapi aku melewatkan 8 menit sebelum berpisah. Benar, aku menyesal sekali. Sampai tiba-tiba pandanganku tertuju pada novel Milea yang ada di dekatku. “dia lupa membawa bukunya” pikirku. Lalu ku ambil buku tersebut, membukanya lagi sambil berfikir bagaimana cara mengembalikannya? Ku cari nama pemiliknya di buku tersebut, barangkali dia meninggalkan informasi tentang dirinya. Dan benar, di penyekat buku tersebut, ada sebuah tulisan yang tidak terlalu rapi, “@adamyudhistira. Find me everywhere! 25 mei 2017.” Tanggalnya tertulis di bawah kalimat yang pertama dan tertanggal hari ini, berarti dia baru tadi menulisnya.
Jadi, buku ini ketinggalan atau dia sengaja meninggalkannya untukku? Tiba-tiba aku tersenyum sendiri. 
End.

Senin, 01 Mei 2017

Hujan Bulan Juni

Cerbung: Kepingan Memori yang Kembali Part 4
“Pluviophile?” Suara Fatih mengagetkanku, tapi juga menenangkanku mengetahui itu dia karena aku terlalu takut berada disini sendirian pada saat hujan seperti ini. Aku terjebak di bank BRI setelah mengambil uang dari ATM.  Disamping BRI ada warung kopi dan banyak sekali cowok disana untuk ngopi atau cuma sekedar berteduh dari hujan yang tiba-tiba datang. Oleh karena itu aku benar-benar takut saat itu.
Aku menghembuskan nafas lega mengetahui yang datang Fatih. "Kenapa ekspresinya gitu?", Fatih bertanya lagi ketika melihatku mengeluarkan nafas seperti itu.
"Untung kamu yang datang tih, aku takut sendirian disini" Jawabku.
"Owh" katanya sambil ngangguk beberapa kali.
"Eh, by the way tadi kamu datang dari mana? Kok aku gak lihat tiba-tiba uda disini aja?"
"kamu nglamun aja sih mana sadar kedatanganku"
“kan uda bilang tadi itu gara-gara aku takut makanya diam aja"
" hehehe dari sana" lanjut fatih sambil menunjuk arah warung kopi.
Sekarang gantian aku yang ber-owh. Aku sudah mulai tenang sekarang, setidaknya ada yang menemaniku disini dan aku yakin dia gak akan ngapa-ngapain aku. "By the way, makasih ya tih sudah mau kesini, sumpah aku takut banget tadi" kataku sambil merentangkan telapak tanganku biar terkena air hujan yang jatuh dari ujung genteng bank.
"Iya rin gak papa, lagian aku juga gak tega kali temanku ntar di godain sama cowok-cowok yang di warkop itu" kata Fatih. Teman? Duh, sedih juga ketika Fatih menganggap aku cuma temannya. Batinku berbicara. Tapi aku diam saja.
"Kamu pluviophile, rin?" tanya Fatih ketika aku masih memain-mainkan air hujan dengan tanganku dan menikmatinya.
"Suka sih, tapi ya biasa-biasa aja gak lebay hehe. Kamu?" ku tanya dia balik.
"Biasa aja sih, tapi hujan sering bawa kenangan katanya"
"Kata siapa?" aku menyelidik.
"Kata orang-orang alay yang tiba-tiba jadi pujangga ketika turun hujan”
"Haha sering baca beranda facebook kamu pasti" ucapku ketawa. Fatih juga ikut ketawa.
"Tapi bener loh tih, kalo hujan itu bawaannya mellow mellow gimana gitu"
"cocok di pake bernostalgia dengan kenangan gitu, ya?"
"Iyaa haha"
"Kalo takut disini tadi kenapa gak langsung pulang aja meskipun hujan-hujanan, katanya kan suka hujan?"
“gak ah, ntar bajuku basah, baru ganti ini" jawabku asal sambil tertawa.
“So, that's why I’m scared when you say you love me" kata Fatih. Aku menoleh kepadanya sambil mengernyitkan dahi. Merasa aku memperhatikannya dia buru-buru bilang " Bob Marley". Maksudnya yang dia katakan adalah quote-nya Bob Marley.
Aku tersenyum, "you say you love rain, but you use an umberella to walk under it,” kataku. “you say you love sun, but you seek shelter when it is shining” Fatih melanjutkan. “Haha you say you love wind, but when it comes you close your windows” aku melanjutkannya lagi. “that’s why I'm scared when you say you love me” kita mengucapkan dengan suara hampir bersamaan kalimat terakhir dari quote Bob Marley ini, lalu tertawa bersama-sama.
"Kamu tau juga quote itu?" Kata Fatih masih tertawa.
"Taulah, banyak bertebaran di facebook" jawabku juga tertawa. Fatih ikut tertawa.
"Hujan-hujan gini, aku juga jadi ingat dulu, waktu kita SD" kataku sambil menoleh ke Fatih.
"Ingat yang bagian apa?" dia bertanya sambil melipat tangannya di depan dada.
"Kalo hujan mesti pengen cepet pulang, pengen hujan-hujanan ato pengen pake jas hujan sambil naik sepeda. Duh dulu itu seru banget ya" Aku mengingatnya sambil tertawa.
"And now everything has changed" komentar Fatih.
"Yap, benar" "dan kamu juga berubah, berubah lebih keren" lanjutku dalam hati.
"Ehm, kalo aku berubah gak, tih?"
"tetep, tetep pinter, tetep cantik hehehe" jawabnya sambil tersenyum.
“tsaaaah” jawabku sambil memalingkan muka.
"Kamu masih suka pengetahuan sejarah, rin?"
“Iya, masih suka baca buku yang berbau sejarah. Kenapa emang?”
“masih inget Douwes Dekker? Tiga serangkai pendiri indische partij; Douwes Dekker, Tjipto Mangunkusumo dan Ki Hajar Dewantara?”
“iya iya lumayan inget”
“aku baru tau rin, kalo Multatuli, yang dulu sering kita hafalin nama itu karena bukunya yang terkenal max havelaar. Multatuli itu Douwes Dekker, rin... “
“oiya? Menarik itu. Tau darimana, tih?”
“pas kuliah pernah dapat tugas rin, menganalisis buku Bumi Manusia, karya Pramoedya Ananta Toer. Jadi, mau gak mau kan harus baca tuh, disitu ada, kalo Douwes Dekker itu adalah Multatuli”.
“bentar deh tih, emang kuliahmu jurusan apa sih?” 
“sastra inggris, rin.. Sejak saat itu aku mulai suka baca buku sejarah hehe. Biasanya kan aku suka baca buku-buku ilmiah”.
“owh hehehe, kayaknya aku juga perlu baca buku itu deh”
“iya rin, recommended banget pokoknya, apalagi buat kamu yang suka sejarah. Kamu kuliahnya di Surabaya, kan?”.
Aku mengangguk.
“novel Bumi Manusia itu settingannya juga di Surabaya, rin.. Kamu pasti bisa bayangin tempatnya pas sambil baca”
“oke, next aku cari deh bukunya, aku penasaran juga. Berarti Douwes Dekker atau Multatuli itu punya andil juga untuk kemerdekaan bangsa ini ya?” aku kembali kepada topik sebelumnya.
“banget, dia itu orang belanda tapi kasihan sama orang pribumi. Makanya dia sampai membuat buku Max Havelaar itu. Berat loh yang di lakukan Douwes Dekker itu.” Kata fatih sambil mencoba tersenyum. Lalu kita terdiam beberapa saat.
“dulu kita mana tau hal semacam ini, dulu kita Cuma ngafalin nama-nama dalam pelajaran IPS buat persiapan kalo ujian” kata fatih memulai obrolan lagi.
“iya, dulu aku suka lho menghafal nama-nama yang ada di pelajaran IPS, nama-nama tokoh kemerdekaan, sampai nama-nama raja dan kerajaan hindu sampai islam. Gak tau kenapa dulu suka banget” jawabku.
“soalnya bu Dewi juga sering membuat singkatan-singkatan yang memudahkan kita buat menghafal sih hehe” lanjutku.
“bener-bener. Yang paling aku ingat tuh, musim kemarau asep, april sampai september, kalo musim penghujan omar, oktober sampai maret”
“itu IPA, pelajaran kesukaan kamu” aku tertawa.
“tapi sekarang itu sudah tidak berlaku ya? Sekarang bulan juni, tapi musim hujan hehe”
“haha iya kayaknya. Inget tokoh pendiri asean? Sama bu Dewi dulu juga di singkat. Adam Malik Indonesia, yang ini gak di singkat hehe, trus Tunma: Tun Abdul Rozaq Malaysia, TT: Tanat Khoman Thailand, SS: S Rajaratman Singapura, sama Nafi: Narciso Ramus Filipina”
“hahaha bener-bener rin, kamu masih ingat aja”
“iya, semua yang kita pelajari sewaktu SD dulu kita gampang mengingatnya kembali, beda sama sekarang, kalo belajar apa-apa sudah susah masuknya”
“iya, sudah banyak dosa sekarang, pelajaran masuknya juga susah. Samaa riin”. Jawabnya tertawa.
“berarti bener ya tih kalo orang-orang yang menghafal alqur'an itu menghafalnya dari kecil. Soalnya mudah masuknya dan gak mudah lupa juga”
“kayaknya sih begitu, rin”
“eh, kalo Sir Isaac Newton itu siapa, tih? Masih inget gak?”
“Newton itu alat utk mengukur gaya ya kalo gak salah? Berarti Sir Isaac Newton penemu gaya, ya?” Fatih menjawab dengan sedikit tidak yakin.
“Haha, aku malah lupa tih, dari dulu gak terlalu suka IPA sih.. Tapi kayaknya benar” kataku sambil tertawa.
“gak suka apanyaa? Dapat juara terus gitu dulu, nilaimu IPA juga tinggi”
“hey, kamu gak tau kalo mau ulangan IPA aku belajar 2X lebih giat biar bisa dapat nilai lebih tinggi dari kamu” jawabku dengan nada sedikit serius, seakan aku membocorkan rahasia kenapa dulu dapat nilai ulangan tinggi.
“oh jadi gitu? Tau gitu aku belajar 10X lebih rajin saat mau ulangan biar dapat nilai sempurna”. Jawab Fatih gak kalah serius sambil meletakkan kedua tangannya di pinggang kanan kiri dan menengok ke arahku, seperti tanda menantang seseorang. Lalu kita tertawa bersama.
Ternyata hujan sudah mulai reda, tinggal gerimis-gerimis kecil. Dalam hati sebenarnya aku berharap hujannya tetep berlanjut, aku sangat menikmati waktuku berada disini dengan Fatih, “Tuhan, tolong berhentikan waktu sebentar, aku ingin lebih lama bersama orang ini” Aku membatin.
“Sudah reda, rin... Enggak di cariin ibumu, ta?”
“iya, gak kerasa yaa, tadi kita disini berapa lama?”
“gak ngitung juga hehe”
“yaudah, aku balik dulu ya, tih.. Makasih buanyaak sudah nemenin, sudah buat aku gak takut, makasih, makasih pokoknya”. Kataku sambil menaruh dompet di jok motor.
“Santai aja rin.. “
“pulang dulu ya.. Main ke rumahku, kek!”
“hehe iya kapan-kapan”
Aku tau, dia gak akan main ke rumahku, itu hanya jawaban basa-basinya saja.

Jumat, 27 Januari 2017

Syawal Syahdu

Cerbung: Kepingan Memori yang Kembali Part 3

Bulan syawal memang musimnya nikah. Baru seminggu setelah lebaran aja aku sudah resepsi 3X. Dan selanjutnya aku akan resepsi di pernikahannya kakak angkatanku waktu di pondok dulu, aku di undang soalnya selain tetangga (meskipun rumah kita gak deket-deket amat), kakak kelasku itu juga lumayan deket sama aku sewaktu di pondok.

Di acara pernikahan mbak Mira—begitu aku memanggilnya, ternyata aku baru tau kalo Akbar adalah keponakannya kakak kelasku itu. Aku tau itu ketika ku lihat Akbar sibuk kesana-kemari ikut membantu terselenggaranya acara.
Oiya, Akbar adalah teman SD ku, dulu  dia yang paling jago di pelajaran agama, meskipun untuk  peringkat dia hanya ikut 5 besar. Waktu reuni kemaren dia gak hadir. Dia dulu waktu sekolah bisa dibilang deket dengan Fatih.
Baru di akhir acara, ketika para tamu mulai pulang aku menghentikannya ketika dia lewat di depanku, "akbar" panggilku dengan sedikit berteriak, "loh ririn? Kok bisa ada disini?" "iya, temennya mbak Mira. Kamu?” seakan Akbar paham dengan kebingunganku dan dia menjawab “ mbak Mira itu ammahku, rin” "wah gak nyangka ya, dunia selebar daun kelor", "bentar deh rin, kok bisa kamu temennya ammah Mira? Kan kamu seangkatan sama aku?”, "owwh jadi aku adik kelasnya mbak Mira waktu dipondok bar, tapi aku jawab ngasal kirain kamu keluarga jauhnya mbak Mira". Jawabku sambil tertawa. “Oh gitu, oh ya, Fatih disini juga" "apa?" itu adalah ekspresi kagetku ketika nama Fatih disebut, bukan karena aku kurang mendengar apa yang diucapkan Akbar". Akbar melambaikan tangannya ke arah Fatih, aku mengikuti arah pandangan matanya, dan benar saja, Fatih disana, dia berjalan menuju ke arah kita. “waah berasa reuni kecil ini” ujar akbar. “ayo duduk dulu, ngobrol-ngobrol dulu”. “Aku pulang aja deh, cewek sendiri” aku berusaha menghindar. “Eh jangan rin, disini dulu aja, temenin aku, lagian  Akbar masih sibuk, kan? Ntar ketauan dong misi kita kalo aku sendirian aja” Fatih menjawab panjang lebar sambil melirik ke Akbar ketika mengucapkan kalimat terakhir. “misi? Emang misi apa sih?” aku mulai ikut duduk, penasaran dengan rencana 2 orang ini. Fatih dan Akbar tersenyum, “ntar tau sendiri deh” Akbar yang menjawab. “Okey, jadi aku sebagai apa nih?” Aku berusaha setenang mungkin dan tetap tersenyum. “Eh, aku tinggal bentar ya.. Bentar”. Akbar meninggalkan kami. "Tuh kan, apa aku bilang tadi" Fatih nyelutuk. Aku tersenyum, “kok belum balik, tih?" ”minggu depan mungkin..Kamu, kok masih di rumah juga?" dan percakapan pun terjadi antara kita berdua. Finally i got that time, God..

Kira-kira 10 menit kemudian Akbar datang menemui kami. Sepertinya dia sudah tidak sibuk. Setelah mengobrol tentang masa lalu sebentar, saatnya mereka melakukan misi mereka. “kita tunggu aja disini, ntar dia juga seliweran disini” “aku kok lumayan deg-degan ya, tapi penasaran juga orangnya seperti apa”. Aku yang tidak paham apa-apa nyelutuk aja “hmmm ini pasti masalah cewek” “cerdas sekali kau ini rin” Akbar memujiku, “ini aku mau ngenalin Fatih sama sepupuku, kali aja mereka cocok... Eh tapi bahasanya kok ngenalin ya, ngasih tau mungkin lebih tepatnya” lanjut Akbar sambil tertawa. “iya, dia maksa banget biar aku ngeliat sepupunya itu” ucap Fatih, dengan nada yang datar-datar saja.
“faraah” ucap akbar pada seorang perempuan yang bepakaian serba biru laut, hijabnya menutupi dada. Sepertinya ini target mereka. Aku membatin.
“tolong ambilin minum buat 2 temenku ini aku dong, pleeaseee”
“iya tunggu sebentar” ucap perempuan itu dengan tersenyum ramah.
“gimana?” tanya akbar Ketika perempuan itu sudah pergi.
“yaa lumayan” jawab Fatih sambil mengangguk-angguk
“Kalo menurut kamu gimana, rin?”
“mmm cantik, anggun, ramah, hijaber lagi”  jawabku berusaha menyembunyikan badmoodku mendadak.
Perempuan yang dipanggil Farah tadi datang kembali dengan membawa nampan yang berisi teh, mendekati tempat duduk kami. Dan menaruh teh tersebut di depan masing-masing dari kami.
“farah, ini namanya Ririn” ucap akbar sambil mengenalkan aku pada Farah. Yang dikenalkan lalu menyalami tanganku sambil menyebutkan namanya, akupun melakukan hal yang sama.
“kalo yang ini namanya fatih” farah melirik ke arah fatih, begitu pula fatih. Keduanya sama-sama tersenyum. Gila, Fatih pandai sekali mengatur waktu kapan waktunya melirik cewek itu dan kapan waktunya melemparkan senyum.
“she will remember me, I swear!” ucap Fatih ketika Farah sudah berlalu.
“Kok bisa gitu, tih?” aku penasaran alasan fatih ngomong seperti itu.
“ada jurusnya riiiin” jawab fatih tertawa. Dia memanjangkan huruf i ketika menyebut namaku.
“Jurus pertama, beri kesan menarik pada gebetan supaya si gebetan tidak melupakanmu begitu saja” Akbar menimpali sambil mengerlingkan 1 matanya ke fatih.
“oh jadi kebanyakan cowok ngelakuin hal itu ya? Baru tau” aku melipat tangan di perutkuku sambil menyandarkan punggungku di kursi.
“emang kamu gak pernah tertarik sama cowok karena kesan pertama, rin?” Akbar nyelutuk.
“mmmmmmm.... Apa sih? Gak mau jawab ah, sensitif aku kalo di tanya hal beginian, sama cowok lagi. Udah ah mau pulang, misi sudah selesai kan?” lanjutku.

Finally, aku pamit duluan...meninggalkan Fatih dan Akbar yang masih mengobrol, mungkin melanjutkan obrolannya tentang Farah. Pulang duluan is the best way, I think... Daripada aku harus ikut membicarakan cewek lain dengan Fatih?
Okey, aku harus menekankan kepada hatiku sekali lagi. Memangnya Fatih itu siapanya aku? Kenapa aku tiba-tiba cemburu gak jelas begini? Sudah cukup rin...cukup! Aku beberapa kali memukul keningku.

Sabtu, 10 Desember 2016

Taruhan Balapan Lari

Cerbung: Kepingan Memori yang Kembali Part 2

Kencana cafe, 10.37 a.m

Sambil menunggu pesanan datang kami mengobrol tanpa topik. Enaknya bertemu teman lama itu kita bisa belajar banyak pengalaman yang berbeda-beda dari mereka, tentunya lewat cerita mereka. Yes, this is not only a reunited but also sharing experiences. Misalnya, yang masih belom menikah nanya-nanya sama yang sudah menikah tentang gimana rasanya menikah, kehidupan setelah menikah, yang tidak kuliah tanya kuliah itu gimana, yang sudah bekerja menjelaskan dunia kerja itu bagaimana. Bagi-bagi ilmu dengan teman-teman lah intinya. Duh kencana kafe jadi rame sekali gara-gara rombongan kita datang.
“Wil, kamu masih jomblo gak? Sofi jomblo nih, sapa tau kalian bisa jadian” Arif mulai membuat lelucon. Tapi Sofi yang merasa tidak terima dengan ucapan Arif memukul dengan keras lengan Arif.
“Hahaha rasain loe” ungkapku menyetujui apa yang dilakukan Sofi.
“Sepertinya aku bukan tipenya Sofi” ujar wildan sambil menunduk, sok sedih. Ekspresinya dia dapat sekali. Hahaa
“Tipenya Sofi pasti yang otaknya main, trus juga hobi olahraga, iya gak, Sof?” Fatih menimpali.
“yang soleh, yang gahool, yang terpelajar” Sofi menjawab sambil mikir kriteria cowok idamannya.
“aku banget itu” Riyan menyahut.
Semuanya tertawa. Jelas-jelas Riyan tidak nyantol sama sekali di kriteria yang diucapkan Sofi tadi.

Sebenarnya aku menyimpan sejuta rasa penasaran dengan Fatih. Tapi, belum ada topik yang bisa menjadikanku ngomong dengannya. Keadaannya masih beku. Dan aku gak berani untuk menyapa dia duluan. "Tanyain gue kek, tih..." Aku membatin. Aku bernafas kesal dan mulai menghitung mundur sampe seberapa lama aku dan Fatih akan sama-sama tidak saling mengenal.

Percuma nungguin Fatih ngomong sama aku, justru Riyan yang mengajakku bicara. Kebetulan dia duduk di sebelahku.
“Rin, Ilham ngeliatin kamu terus tuh dari tadi”.
“Uh masak?” aku melirik ke arah Ilham. Memang sih sesekali dia memang melihatku. “biarin aja wes, ntar juga dia capek sendiri”. Bisikku ke Riyan.
“kayaknya dia masih suka sama kamu. Kamu ingat? Dulu waktu aku bilang ke kamu mau balapan lari sama Ilham dan siapa yang menang bakal dapetin kamu?” Aku mencoba mengingat-ingat kejadian itu.

Flashback.
Aku meminjam buku catatan Sofi karena tadi pagi tidak masuk sekolah. Dia bilang ada murid baru dikelas kami. Waktu itu aku duduk di kelas 5. “anaknya gimana? Pinter gak?” seketika itu yang aku tanyakan ke sofi. Bahaya kalo dia tergolong anak yang cukup pandai, aku punya satu saingan lagi nantinya. “gatau sih, kan baru, tapi tadi disuruh pak misbah ngerjain MTK di depan dia bisa”. Kata Sofi.
Keesokan harinya aku penasaran sekali dengan murid baru itu, dan ternyata dia sudah berangkat lebih dulu daripada aku. Mungkin temen-temenku yang cowok sudah memberi tahu murid baru itu siapa aku. Oiya, aku lupa bilang kalo murid baru itu adalah cowok. Setelah terdengar bisik-bisik diantara teman-teman cowok, murid baru itu menghampiriku “Ririn, aku Riyan”, “Ririn”, sambil menyambut uluran tangannya yang menyalamiku.

Seiring berjalannya waktu aku tau Riyan bukan termasuk anak yang pintar dikelas kami. Kemampuannya biasa-biasa saja. Dan seiring berjalannya waktu, dia mulai menampakkan kenakalannya. Dengan wajah yang lumayan ganteng--meski tidak pintar, mungkin dia bermaksud untuk menggodaku, apakah cewek yang paling pandai dikelas ini tergoda dengan ketampanan teman sekelasnya atau tidak.

Suatu kali ketika pelajaran olahraga, Riyan mendekatiku dan membisikkan sesuatu. “aku mau balapan lari sama Ilham, nanti yang menang otomatis jadi pacar kamu, gimana?”. Sepertinya dia juga sudah tau kalo si Ilham itu naksir sama aku sejak kelas 4, tapi naksirnya dengan cara yang tidak sehat. Jujur dalam hati jika balapan lari itu terjadi aku berharap Riyan lah yang menang, setidaknya aku bebas dari yang namanya Ilham. Karena disukai Ilham itu membuat aku ketakutan sendiri.
Gara-gara bertengkar dengan Arif, Ilham pernah bawa sabit ke sekolah. Serem kan dia?  Tapi, bagaimana jika Ilham yang menang? Bukankah aku seperti menjerumuskan diriku sendiri?
“gimana? Aku yang akan memenangkannya” jawab riyan dengan yakin saat itu.
“Buat apa sih? Aku kan bukan barang yang bisa diperebutkan begitu aja?”. Itu jawaban yang keluar dari mulutku dengan ekspresi marah.
“nanti kalo bukan kamu yang menang gimana?”. Lanjutku dalam hati.
Dan akhirnya balapan lari tersebut gagal dilaksanakan.

Flashback berakhir.

Aku tidak tau yang dilakukan Riyan saat itu, saat dia mau balapan lari sama Ilham, itu karena dia ingin menggoda cewek pintar di kelasnya, karena dia punya tampang yang lumayan atau dia ingin menolong aku yang menderita karena Ilham? Entahlah, Tapi dilihat dari sikapnya sekarang, dia baik, tidak bermaksud menggodaku.  Tapi aku tidak menanyakan tentang itu ke Riyan, toh itu juga masa kanak-kanak kita.
“Ingat?” riyan menyadarkanku yang mengingat-ingat kejadian itu.
“inget inget, serem ya Ilham dulu itu”
“hati-hati lho sepertinya dia belum bisa move on”
Aku melirik ke arah ilham, “duh kok tiba-tiba aku jadi takut gini ya, tolongin dong”
Riyan hanya tersenyum melihat tingkahku.
“nah ini akhirnya datang juga” seru Arif ketika pelayan kafenya mulai mengantarkan pesanan ke meja kita.

Sabtu, 23 Juli 2016

Marry Your Daughter

Cerpen. Dari sudut pandang seorang lelaki. Fiksi.
Terinspirasi setelah memutar lagu Marry YourDaughter-nya Brian Mcknight.


Aku melihat-lihat box kecil merah yang ada di tanganku, buka-tutup, buka-tutup, buka lagi, tutup lagi, sambil sesekali melihat isinya. Kapan aku berani melamarmu? Batinku.

###

“Vin, tungguin dong..”
“Makanya kalo jalan jangan kayak kura-kura”
“Bantuin bawa gitu kek, berat ini tas nya” sahutnya mulai kesal.
Aku yang sudah beberapa meter berada di depannya kembali mundur dan menghampirinya, “sini tas nya”. Aku gak bermaksud apa-apa, cuma sebagai lelaki mana tega ku biarkan cewek yang kepayahan dengan ransel di punggungnya, tas jinjing besar di tangan kanannya dan kantong plastik ukuran sedang di tangan kirinya? Apalagi meninggalkannya jalan sendirian waktu malam begini sedangkan dia tinggal di asrama yang sama denganku dan aku adalah orang terdekatnya (saat itu) karena kita berasal dari kota yang sama. 

Aku tersenyum sendiri teringat kejadian 3 tahun yang lalu itu, ketika kita masih sama-sama mahasiswa baru. Setelah itu kita tidak pernah bertemu lagi, sampai sekitar sebulan yang lalu tanpa sengaja kita dipertemukan kembali. Di depan gedung fakultasku, dia memanggil namaku dengan nada dan panggilan khas nya sambil melambaikan tangannya ke arahku.
“Ngapain disini?” tanyaku menghampirinya.
“Nungguin temen, mau ngembaliin ini” dia mengangkat sebuah buku dari tangannya.
“Sumpah yaa sekarang tambah gemuk begini.. Kemarin KKN dimana?”  lanjutnya.
“Magetan. Kamu?”
“Kediri” jawabnya tersenyum. And it's the first time I realize that she has a sweet smile. Really!
“Gak pulkam?” pertanyaannya menyadarkan diriku kembali.
“paling bentar lagi. Kamu? Ini mau pulkam?” aku mulai menebak.
“Hu'um” dia tersenyum lagi.
“Mau dianterin? Sampe terminal?” entah kenapa kalimat itu yang terucap dari mulutku.
“Hahaa gausah kali, uda biasa sendiri”
“Eh, nomer kamu masih yang dulu kan?” Sialan! Stupid question again. Batinku.
“Bisa jadi, soalnya gak pernah ganti sih” katanya.

###

Siapa bilang cowok tidak pernah galau, tidak pernah patah hati? Kita para cowok sebenarnya juga sedih ketika tiba-tiba ditinggalkan kekasih begitu saja, apalagi untuk menikah dengan laki-laki lain, cuma kita tidak pandai menunjukkan kesedihan tersebut. Rasanya hatiku seperti dibanting dan pecah berkeping-keping ketika kekasihku melakukan hal itu padaku. Aku pernah down beberapa hari tapi aku memilih bangkit dan melanjutkan hidup.

Tapi berkat patah hati, aku telah mencapai puncak gunung beberapa kali. Ya, itu salah satu pelampiasanku agar aku tetap bahagia. Hal yang paling menarik menurutku dari sebuah pendakian adalah, aku bisa melihat ke Maha Kuasa an Tuhan yang membuat aku berdecak kagum berkali-kalidan  dan juga membuatku menangisi dosa-dosaku dan rendahnya diri ini ditengah ke Maha Kuasa an Tuhan. Lalu aku mulai berfikir, kenapa aku harus sedih dengan masalah kecil  seperti ini ketika aku punya Tuhan yang Maha Besar dan Maha Kuasa?

Pada suatu sore aku ke pantai dekat rumah untuk menikmati sunset dan membuang galau yang sesekali masih datang menghampiri setelah patah hati, eh, lebih dari patah hati.. Hancur. Aku sebenarnya tidak terlalu suka pantai atau laut, aku lebih suka gunung. Tapi, tiba-tiba aku menjadi suka pantai dan sunset sore itu, cuma sore itu.. Karena ada momen menarik.

Gita, ya, ku lihat gadis itu disini juga, sepertinya dengan keluarganya. Ada 5 orang. Cowok 1, 3 cewek lainnya seumuran Gita—sepertinya, dan 1 ibu yang duduk di kursi roda. Ku perhatikan dari jauh, ketika yang lainnya asik berfoto, Gita malah tidak pernah jauh dari ibu yang ada di kursi roda tersebut. Sesekali dia menyuapi makanan dan mengelap sisa makanan di sekitar mulut ibu itu. Meskipun begitu tapi dia terlihat bahagia. Satu hal yang aku sadari saat itu, bahwa bahagia itu bermacam-macam bentuknya, ada yang begitu bahagia ketika berfoto-foto ria, ada juga yang bahagia ketika melihat orang lain bahagia.
Entah itu nilai plus untuk dia yang ke berapa, setelah terakhir aku memberinya nilai plus lagi karena dia telah menemaniku bangun dini hari menonton klub sepak bola favoritku main. Meskipun dia banyak komentar , “Courtuis itu cakep yaa...” sampai “yang nomer punggung  9 itu siapa sih? Curang banget mainnya” dsb. But, I like being awake with her. Keakraban yang baru terjalin satu bulan ini perlahan mengobati patah hatiku. 

Does she feel it?

###

“bro, Karin tuh.. Kemarin dia wa gue, dan dilihat dari gelagatnya sepertinya dia ingin balikan sama loe” Doni menepuk bahuku ketika orang yang dibicarakan menuju tempat parkir fakultas.
“males lah”
“hei, loe harus move on, bro, move on. Loe harus buktiin ke Wirda kalo loe itu strong, meskipun dia ninggalin loe dan memilih menikah dengan orang lain. Lagian, apa kurangnya loe sih, sudah pantaslah buat jadi imam. Heran gue kadang sama si Wirda itu”. Terlihat jelas kekesalan Doni di kalimat terakhirnya.
“Iya, aku bakal buktiin itu”
“serius? Ke Wirda?”
“yap”
“wih mantap.. Jadi, loe beneran bakal balikan sama Karin?”
“ya gak Karin juga kali... Loe lihat aja besok”

###

Belakangan ini, aku berfikir untuk langsung melamarnya. Ini bukan waktunya untuk main-main lagi dengan perasaan. Dan rencanaku sudah bulat, aku harus melamarnya, segera!
Siang itu langit cerah sekali. Aku mengendarai motorku untuk mengejar masa depan. Tak lupa ku bawa box merah yang sudah tidak tersembunyi manis di laci lemari, karena akhir-akhir ini aku sering mengeluarkannya dari tempat persembunyiannya. Semoga jawaban yang akan aku dapatkan juga secerah langit siang ini, dan cincin ini pas dan cocok terpasang di jari manisnya meskipun aku membelinya tanpa ukuran. 

Gang orange, 57 dukuh kawal.

Aku bernafas berat, bismillah... Laa haula wa laa quwwata illa billah.
“assalamualaikum” ucapku akhirnya.
Seorang pria menjawab salam dan menuju pintu. “mencari siapa, nak?”
“saya temannya Gita, pak...”
“oh....”
“tapi saya ada urusan dengan bapak” potongku sebelum bapak itu melanjutkan perkataannya. Gila! Badanku tiba-tiba panas dingin begini.
“dengan saya?” bapak itu memastikan apa yang aku katakan dan mulai terlihat khawatir.
“iya, pak” aku mengangguk.
“baiklah, silahkan masuk”.

Jarak antara pintu dan ruang tamu tidak jauh,kira-kira hanya 3 meter, tapi telah membuat langkahku terasa berat sekali. Aku grogi gak karuan. Tanganku panas dingin dan keringat di punggungku terasa mengalir. Aku tidak pernah senervous ini sebelumnya.

“ada apa dengan anak saya, nak”
“sebelumnya saya minta maaf karena saya grogi sekali saat ini. Maka maafkan jika nanti saya akan menyita banyak waktu bapak. Pak, saya Avicena Muhammad, saya menyukai putri bapak, Anggita Larasati. Dan saya bermaksud untuk melamar putri bapak.”
---------------
---------------
---------------
---------------

###

Kata bapak, kamu tadi ke rumah ya? (19.07)
Iya, trus? (19.10)
Bapak tadi bilang katanya kamu..... Kamu sehat gak sih? (19.11)
Bapakmu bilang katanya aku kenapa? Ganteng ya? ;-) (19.11)
ih, pede.. Kayaknya kamu mulai gak waras deh.. (19.12)
Aku serius, Git.. Jadi, kamu gimana? (19.12)
Kata bapakmu semua di serahkan kepadamu,
karena kamu yang akan menjalani
Dan kata bapakmu juga kamu lebih tau siapa aku daripada bapakmu (19.13)
Semoga jawabanmu tidak mengecewakanku, Git (19.16)
Vin.... (19.17)
Iya, Git? Duh kenapa aku deg-degan sekali begini? (19.17)
Vin, kamu serius? (19.17)
I swear to you with all of my heart, Git (19.18)
Kamu tau kan aku orangnya gimana?
Banyak kekuranganku.. (19.19)
Aku tau (19.19)
Trus? (19.20)
Dan aku tetap memilihmu (19.20)
Kenapa? (19.20)
Karena aku nyaman sama kamu.. (19.21)
Itu saja? (19.21)
Sebenarnya tidak, bahkan aku mencintaimu tanpa alasan,
mencintaimu apa adanya
You’re my everything, Git.. (19.23)
Kamu nanya-nanya terus, jadi jawabanmu gimana? (19.24)
Aku.... (19.25)
Gitaa, please...  (19.25)

Aku mulai deg-degan menunggu jawaban Gita. Ku lemparkan handphone ku keatas bantal. Aku takut membuka pesan selanjutnya.
Tuing-tuing, nada notifikasi wa ku berbunyi. Dengan berat tapi penasaran ku ambil handphone ku dank u tekan tombol power, nama Gita muncul disana. Bismillah… ucapku lirih.

Rasanya keberanianmu datang kesini dengan sepenuh hati dan bilang ke bapak akan tujuanmu,
tidak layak untuk ditolak, Vin J (19.28)

So, will you marry me? (19.30)
Yes, sure.. J


Tiba-tiba saja aku merasa menjadi orang paling bahagia di dunia. Aku membaringkan tubuhku di tempat tidur, tersenyum. Sayup-sayup ku dengar lagu Marry Your Daughter mengalun lembut dari laptop di meja kamarku.

She’ll be the most beautiful bride that I’ve ever seen
Can’t wait to smile
When she walks down the aisle
On the arm of her father, and the day that I marry your daughter

Terima kasih, Git. Ucapku lirih.

###

Pagi, Git… tiba-tiba aku inget wajah kesalmu ketika pulang dari LDK dulu :v :v
Cewek kecil bawa ransel gede, tas gede di tangan kanan-kiri :v
Tapi aku suka sama dia *titik dua bintang*  (05.46)
Aviiiin.... :3
Kamu masih inget kejadian itu?
Maluu ih X_X (06.05)

Masih Git, the first time kita kenal.. lalu dekat (?) J (06.09)
Aaaand you should know that at that first time I’ve fallen in love with you.
Itu rahasia yang tidak kamu tau Vin.. J (06.15)
Really? Pantesan kemaren kamu langsung nerima aku hehehe
Aku sangat senang mengetahuinya, Git
Aaand I’m also falling in love with you from now and forever (06.16)
Ingat waktu kita dancing in the rain in that December?
Waktu LDK? Di suatu sore sehari sebelum kita balik kampus?
Waktu itu kelompokmu sampingan sama kelompokku, and I really enjoy dancing while… sesekali ngeliatin kamu. (06.20)
Masyaallah Git,  maaf aku gak sadar tentang itu.. (06.21)
Aku janji, mulai sekarang aku akan ada untukmu, Git (06.22)
Aku percaya sama kamu, Vin… (06.22)
Makasih ya *titik dua bintang*(06.23)
*titik dua bintang* (06.24)


Titik dua bintang, jika ditulis di chat akan berubah menjadi emoticon cium. Tapi Gita tidak mau kita asal-asalan kalau menggunakan emoticon. Katanya, dia kadang geli sendiri, makanya kita mengganti emoticon cium dengan titik dua bintang. Gita mengajarkanku cara menjalin hubungan yang tidak alay. Dia tidak minta dipanggil sayang atau apa, dan kita setuju panggilan sayang kita adalah, “Gita (aku memanggilnya) dan Avin (dia memanggilku)".


Oiya, namaku Avicena Muhammad, biasanya dipanggil Avis. Tapi dari awal ketemu Gita, hanya dia yang manggil aku Avin. 

Selesai. 

Jumat, 22 Juli 2016

Semangat Pertama Sekolah

Hari ini adalah hari kedua masuk sekolah tahun ajaran baru. Seperti kemarin, hari ini aku mengantarkan anak pertamaku ke sekolah TK. Demi dia aku rela cuti kerja seminggu untuk menemaninya berada di lingkungan baru, sekolah. Sama seperti orang tua-orang tua lainnya.

“Bunda, besok kakak gausah ditungguin lagi kalo sekolah, kakak kan uda besar, uda berani disekolah sendiri, jadi bunda tetap bisa kerja seperti biasa”, kata anakku ketika kita memasuki gerbang sekolah. Aku terharu dengan yang diucapkannya, lalu ku rendahkan badanku mensejajarkan mataku dengan matanya dan menatapnya lembut, “kakak tidak apa-apa kalo tidak ditemenin bunda? sudah berani kalo ditinggal bunda?” kataku sambil membelai kerudung birunya. Dia mengangguk. “kakak kan bisa main sama teman-teman disitu bunda”, katanya sambil menunjuk ke ayunan, jungkat-jungkit dan mainan-mainan lainnya yang berada di depan kelasnya. “kakak juga punya bunda-bunda yang baik dan cantik (baca: Guru-guru TK)”, lanjutnya. Aku tersenyum, dia juga. Lalu disalaminya tanganku, “assalamualaikum, bunda…”, “wa’alaikumsalam, sayang”, jawaban salamku mengiringinya berlari bergabung bersama teman-temannya ditempat bermain. Dari kejauhan, kulihat dia tertawa ceria bermain dengan teman-teman barunya. Ternyata dia mudah bergaul dengan orang-orang baru disekitarnya, sama seperti ayahnya. Aku tersenyum.


Sebelum masuk kelas, bunda-bunda TK mengumpulkan semua siswa di lapangan. Ketika siswa baru diminta untuk memperkenalkan dirinya didepan-seperti yang dicontohkan bunda sebelumnya, dengan percaya diri anakku mengangkat tangan tinggi-tinggi lalu maju ke depan dan berbicara lantang, "halo teman-teman, nama saya Ann, Annelies Mellema Hermawan". :)) 




*Ditulis dari lantai 2 asrama Annur, terinspirasi ketika mendengar adik-adik TK Unggulan Annur berkenalan dengan Bunda dan teman-temannya di halaman sekolah. 

*telat diposting karena sempat jatuh sakit beberapa hari :)

Jumat, 06 Mei 2016

Karena Setiap Tempat Punya Cerita

Setiap datang ke taman kota, aku selalu teringat kamu. Iya kamu! Temanku di sosial media, dan baru sekali bertatap muka sebelum akhirnya kau menghilang dari sosial media dan memutus kontak denganku.

Waktu itu aku tersesat, bingung mencari tempat yang kau tentukan dimana kita akan bertemu. Maklumlah, aku orangnya susah menghafal jalan. Hingga akhirnya kau yang nyamperin aku. Dengan telepon masih di telinga waktu itu aku bilang, “aku di depan museum sekarang, jadi aku harus kemana lagi?” kataku sambil melihat-lihat sekitarku. Dan kira-kira tiga meter dari belakangku, dengan telepon masih di telingamu juga kamu menjawab, “padahal di hometown sendiri, gimana bisa gak hafal jalanan-jalanannya”. Aku menoleh, tersenyum. Kamu memasukkan handphone mu ke saku, dan aku melakukan hal yang sama. “gimana kamu bisa mengenali aku?” tanyaku bodoh. “pertama, kamu kan tadi bilang berada di depan museum. Kedua, suaramu kalo lagi telfon keras sekali. Ketiga, kamu gak beda jauh dengan foto-foto di profilmu”. Aku tersipu mendengar alasan ketiga. “iya dong, kan tanpa efek photoshop”. Lalu kita pun tertawa. Padahal itu pertama kali nya kita bertatap muka, tapi serasa kita sudah kenal lama. Maka setidaknya kita harus berterimakasih pada kecanggihan teknologi, bisa mendekatkan orang yang jauh, bahkan mengenalkan orang yang belum kenal sebelumnya.

Lalu kau mengajakku berjalan-jalan di taman kota, bercerita tentang apapun, mulai dari perjalananku dari Surabaya, hingga candaan-candaan lainnya.“Jadi, kamu benar-benar belum pernah kesini?” tanyamu saat itu. “iya, emang kenapa?”. “sayang sekali”. “kok sayang sekali?”. “yuk, duduk di sebelah sana”. Dia menunjuk ke sebuah bangku panjang dibawah pohon yang rindang dan enggan menjelaskan padaku maksud kalimat “sayang sekali” nya itu. Satu hal yang aku sadari, saat itu tak ku lihat dirimu yang selalu jaga image, kau sangat welcome, asyik diajak ngobrol, dan pemikir sepertinya.


Ya. Aku masih ingat semuanya, semua tempat yang pernah kita lewati di sekitar taman kota ini, bahkan rasanya senyummu masih tertinggal disana. 

Sabtu, 09 April 2016

Aku Ini Kenapa?

Cerbung: Kepingan Memori Yang Kembali
Part 1

Ririn?” suara seorang cowok memanggil namaku ketika aku keluar dari sebuah toko. Beberapa detik aku memandang wajahnya dan mencoba mengenalinya, “emm... Riyan ya?” ucapku mencoba menebak namanya. “Tepat sekali” dia memetik jarinya satu kali.“Gimana kabarmu? Ngapain disini?” lanjutnya. “Alhamdulillah baik, ini lagi belanja... Kamu sendiri? Nyari apa disini?”. “Ini ngisi bensin”. Percakapan kecil pun terjadi antara aku dan Riyan. Gak nyangka aku bisa bertemu teman SD ku disini, karena meskipun tetangga, tapi kita merantau keluar kota. Dan sejak pertemuan itu, kita keep in touch—entah lewat sms, bbm, wa atau facebook.

Aku tidak menyangka saja, seorang Riyan yang dulu bisa dibilang adalah ketua geng siswa-siswa nakal, sekarang yang begitu antusias untuk mengadakan kumpul bareng. Sejak pertemuanku dengannya di toko beberapa hari yang lalu, kita mulai mengumpulkan nomor telepon ataupun alamat facebook teman-teman kita semasa SD. Riyan yang membuat grup di facebook, akupun menyumbang alamat facebook teman SD yang aku tau. Awalnya cuma terkumpul 5 anggota, hingga bertambah menjadi 15 orang, lumayanlah... sedangkan teman seangkatan kita waktu itu ada 29. Jadi setidaknya sudah dapat 50%. Karena akhir-akhir ini facebook mulai jarang digunakan, Riyan berinisiatif membuat grup whatsap dan teman-teman setuju. Maka terbentuklah grup whatsap dengan nama “Alumni 2005”. Sejak ada grup WA itulah kita menjadi semakin lebih dekat. Sehingga, setelah itu terjadilah reuni SD setelah 9 tahun tidak bertemu.

###

Lebaran hari ke 4, 2015

Jadi, kamu yang dulu kecil mungil itu sekarang jadi gemuk gini, la? Riyan meledek Laila yang baru saja datang. Teman yang lainnya tersenyum saja melihatnya, begitupun aku. Selanjutnya, Arif dan Rahma yang datang. Ketika mereka nyamperin kita yang saat itu ada di mushola sekolah, sontak suara cie-ciee terdengar serentak dari dalam mushola. Tapi rupanya mereka bukanlah pasangan kekasih, kebetulan saja berangkat bareng karena rumah mereka searah. Arif dan Rahma mulai menyalami kita satu persatu, sambil mencoba mengenali wajah kita setelah 9 tahun tidak bertemu. “Emm... “ hayoo siapa? Sahutku sebelum Rahma selesai menebak siapa aku. “mbak Ririn kan?” dia melanjutkan. Aku tersenyum dan sedikit mengangguk, “bener kaaan, masih aja kalem kayak dulu” lanjutnya.
14 orang sudah terkumpul, memang tidak ada agenda resmi, jadi kita cuma ngumpul dan nantinya akan hangout entah kemana. Sambil menunggu kalau saja ada yang datang lagi, kita mulai berbincang-bincang.
Jadi, siapa aja nih yang sudah nikah? Masak cuma aku?” Alya melempar pertanyaan ke semua.
“Doakan aku sebentar lagi yaaa...” Diyan yang menjawab lalu terdengar suara cie-ciee dari semuanya.
“Dengar2 Mirna juga sudah nikah loh... “ sahut Izza. Tapi saat itu Mirna tidak datang.
“Rin, kamu kapan?” tiba-tiba Riyan melemparkan pertanyaan padaku. Dari dulu anak ini memang sering menggodaku, mentang-mentang aku pendiam.
“Santai aja keles, toh kalo aku segera menikah kamu juga belum punya pasangan buat diajak kondangan, kan?” jawabku.
“Alaaah rin, bilang aja kamu masih jomblo” ledek Riyan.
“Sialaan” jawabku sambil melempar kulit kacang ke arahnya.
Riyan tertawa menang, yang lain juga ikut tertawa.
“mbak Ririn, emang mau sama Riyan?” Sofi, tetanggaku menyahut.
“Emm, mikir berkali-kali dulu deh kalo mau jadiin riyan suami”. Kali ini giliran Riyan yang tertohok.
“Eh ngomong.ngomong Ririn dulu pendiam loh, kenapa sekarang jadi cerewet gini ya?” kata Riyan yang disetujui beberapa teman laki-laki yang lain.
“Dulu dulu, sekarang sekarang... Iya gak rin?” Wildan yang menjawab.
“Siip” ucapku sambil mengarahkan jempol ke Wildan.

Terdengar suara motor berhenti di depan kantor, kami yang ada di dalam mushola pun penasaran siapa yang datang. Dengan lincahnya dan badannya yang mungil Izza berlari ke jendela, mengintip siapa yang datang, Riyan dan Wildan membuntutinya.
Siapa?” rahma menyahut dari tempat kami duduk.
Fatih deh kayaknya” jawab Izza beberapa detik kemudian sambil berjalan kearah kami.
“iya, Fatih itu” Riyan menambahi.

Fatih juga teman seangkatan kita. Dia terbilang anak yang cukup pintar di kelas waktu itu, dan dia adalah lawanku untuk istiqomah mendapat ranking satu di kelas. Biasanya yang peringkat 1, 2 gantian antara aku dan Fatih, peringkat 3 nya tetanggaku, si Sofi. Meskipun akhirnya lebih banyak aku yang mendapat rangking 1, tp bagaimanapun juga aku geregetan dengan Fatih kalau dia berhasil merebut rangking 1.

Dulu waktu sekolah, aku paling suka pelajaran IPS, entah kenapa aku bisa menghafal nama-nama tokoh dalam pelajaran IPS dan bisa dibilang aku lumayan hafal letak negara-negara di dunia lewat melihat atlas, sampai akhirnya ketika berhasil menjadi juara kelas 4, aku mendapatkan hadiah globe mini dari guru kelasku, bu Indah namanya. Dan aku paling tidak suka pelajaran matematika, meskipun aku tidak bodoh-bodoh amat di pelajaran itu. Justru sebaliknya dengan aku, Sofi adalah siswi yang sangat suka dengan pelajaran yang menantang itu, bahkan sampai SMP pun dia masih menyukai pelajaran itu, yaa aku tau karena dia meneruskan di sekolah yang sama denganku. Sedangkan Fatih, dia ahli di pelajaran IPA. Suatu kali aku pernah bertanya ketika materi IPA tentang listrik seri dan pararel yang aku belum paham, dan dia tidak mau memberi tahuku. Rasanya ingin ku jitak saja kepalanya.

“assalamualaikum” Fatih masuk ke mushola, menghampiri kita dan mulai menyalami kita satu persatu. Astaga, sumpah dia terlihat keren pake banget daripada 9 tahun yang lalu. Tapi sepertinya masing songong sih..  Aku menebak-nebak sendiri.
“Ri...rin?” aku sedikit kaget ternyata dia sudah berada di depanku, “yes, exactly” jawabku sambil tersenyum. Sengaja ku jawab pakai bahasa asing karena dari kabar yang ku dengar Fatih menempuh kuliah di Jogja, gak tau jurusan apa. Entah kenapa tiba-tiba aku jadi salah tingkah begini ketika Fatih datang. Oh My Godness, semoga tidak ada yang tau aku salah tingkah. Ketika sekolah dulu, aku pernah di jodoh-jodohkan dengan Fatih karena kita sama-sama siswa yang cukup pandai di kelas, tapi itu dulu dan aku tidak menghiraukannya. Tapi, kenapa sekarang malah sebaliknya?

“Uda jam sepuluh nih? Masih mau ningguin yang lain apa langsung hangout kemana gitu?”
“ayuk berangkat, sekalian sudah lapar ini...” hehee. Arif menimpali.
Ditentukan dulu dong tempatnya” Riyan menyahut.

Dan setelah beberapa menit berdiskusi disetujuilah tempatnya yaitu di Kencana Cafe. Semuanya berangkat, tak terkecuali Fatih.
Semua segera mengambil kendaraannya. Supaya tidak bergerombol, kita juga memutuskan untuk saling berboncengan. Dari awal aku memang sudah berboncengan dengan Sofi, dan Fatih membonceng Izza. Diam-diam ku perhatikan Fatih yang menunggu izza untuk naik di jok bagian belakangnya.
Aduuh aku ini kenapa??


Bersambung...