Tampilkan postingan dengan label Life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Life. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 September 2017

Jika Istrimu Adalah Seorang Pecinta Sepak Bola

Postingan ini terinspirasi setelah membaca project #CeritaJika milik Kurniawan Gunadi.
Menonton sepak bola adalah hobi mayoritas kaum adam. Menonton sepak bola itu identik dengan bangun tengah malam, lupa daratan ketika sudah melihat seniman lapangan hijau kesayangannya beraksi, dan taruhan.
Lalu, bagaimana jika istrimu adalah seorang pecinta sepak bola?
Sayang, kau tak perlu khawatir aku tidak bisa menyelesaikan pekerjaan rumah dan tugasku sebagai seorang istri karena keasyikan menonton club favoritku bertanding. Meskipun aku menyita waktu tidurku untuk menonton sepak bola, keesokan harinya aku akan tetap menyiapkan sarapan untukmu, menyiapkan baju kerjamu dan mengurus rumah seperti biasanya. Karena menonton sepak bola hanya hobiku, dan itu tidak akan membuatku lupa akan kodratku sebagai seorang wanita dan istri.
Jika kau menawariku untuk jalan-jalan, jangan marah kalau aku akan memintamu mengajakku pergi ke stadion untuk menonton pertandingan live, menikmati euforia stadion di tengah gemuruh para supporter, daripada duduk manis dan tenang menonton film di bioskop. Meskipun aku tau sayang, niatmu adalah memanjakanku seperti perempuan-perempuan lainnya, tapi aku suka itu. Kau tidak keberatan kan, sayang?
Sayang, kau mungkin merasa jika seorang perempuan suka menonton sepak bola adalah karena dia mengidolakan salah satu pemainnya. Kau juga tidak perlu cemburu jika aku begitu mengidolakan kiper Chelsea, meskipun ganteng, kau tetap menjadi idola pertamaku.
Sayang, jika kau juga pecinta sepak bola sepertiku, kau tak perlu mengorbankan malam minggumu untuk mengajakku ke taman atau menikmati kopi di kafe, sedangkan tim favoritmu sedang bertanding. Karena dengan senang hati akan ku temani kau menonton tim favoritmu itu, dan ku buatkan kopi beserta camilan untuk menemani kita menonton tv. Aku tidak akan marah ketika kau lebih fokus ke tv daripada mendengarkan ocehanku. 
Sayang, jika ternyata kita punya tim favorit yang berbeda atau tim kita adalah rival. Aku tidak akan memaksamu untuk pindah menyukai tim favoritku. Aku juga tidak akan berdebat kusir denganmu tentang tim siapa yang lebih unggul, tapi kita akan saling mendukung dan kita akan menjadi contoh kerukunan antar fans sepak bola.
:))

Sabtu, 22 Juli 2017

Untukmu, Seseorang Yang Kelak Menjadi Partner Hidupku

Kamu perlu tau bahwa saat ini aku masih sedang mencoba memperbaiki diriku, dalam hal apapun yang menurutku perlu. Meskipun aku tidak tau yang aku lakukan ini benar atau salah.
Aku hanya ingin menjadi lebih baik, lebih percaya diri, lebih berwawasan, lebih pandai bersosialisasi, lebih dewasa, lebih bijaksana sehingga aku akan pantas bersanding denganmu.
Kamu juga perlu tau bahwa saat ini my heart broke into pieces. Aku tidak menyangka, aku yang selama ini tidak banyak tau tentang hal pacaran, tapi ketika aku beranjak dewasa aku malah mencintai seseorang yang dia bahkan tidak mengenalku, dan justru aku masih saja mencintainya, bahkan sampai sekarang aku masih mengingat dia. Aneh kan?
Lalu, orang tuaku berusaha mengenalkanku dengan seseorang, tapi caranya menyakitkanku. Aku benar-benar hancur saat itu, saat aku merasa menjadi boneka, ditambah lagi ketika yang di kenalkan kepadaku pun terlalu cepat mengambil kesimpulan bahwa aku telah menerimanya. Ah, aku tidak perlu menceritakannya dengan detil masalah ini disini, kan?
Saat ini, aku mengenal seorang lelaki di sekitarku yang sifatnya menurutku sangat tidak pantas sebagai seorang lelaki dan sebagai seorang suami. Orang ini pula yang memberikan aku semacam trauma yang membuat aku berfikir bahwa semua lelaki sama seperti dia. Itulah alasan kenapa sampai saat ini aku sulit percaya dengan yang namanya laki-laki. Aku takut aku akan mengenal orang seperti ini selanjutnya. Maka dari itu, aku selalu berdoa aku tidak menemukan dirimu seperti dirinya, kekasih.. Aku takut, aku berdoa kamu bukan tipe orang seperti dia. I hope you totally different with him.
Saat ini juga, mungkin karena aku masih sendiri. Beberapa orang mencoba untuk mendekatiku. Kau tau? Caranya sungguh kekanak-kanakan, dan aku sama sekali tidak tertarik untuk meladeni orang seperti itu. Tapi, secuek apapun aku, aku juga merasa terganggu di dekati orang seperti itu, aku tidak merasa aman dan nyaman dengan kehidupanku.
Orang-orang di sekitarku tidak tau, bahwa perempuan yang di lihatnya ini tidak sedang baik-baik saja, karena aku memang selalu berusaha terlihat baik-baik saja di hadapan siapapun. Mereka tidak akan tau kalau dibalik senyum yang aku lemparkan sebenarnya hatiku pecah berkeping-keping, hatiku takut, hatiku penasaran, hatiku cemas, dan hatiku juga menantimu datang di usiaku yang sudah hampir seperempat abad ini.
Ketika bertemu denganmu, aku berharap kita bisa menjadi partner yang saling melengkapi, saling menjadi pelipur lara sekaligus membagi kebahagiaan bersama. Kita tidak menjamin kehidupan kita akan selalu baik-baik saja, tapi kita selalu punya solusi untuk masalah yang kita hadapi dan selalu percaya satu sama lain.
Ketika bertemu denganmu, aku berharap kamulah yang mengembalikan kepingan-kepingan hatiku agar menjadi utuh kembali, dengan sikapmu yang apa adanya yang akan membuatku mengaguminya. Dan aku akan merasakan dunia ini indah setelah bertemu denganmu dan selamanya.
Ketika bertemu denganmu, semoga kamulah orangnya yang merubah fikiranku bahwa semua lelaki itu sama. Kamu menyayangiku, mencintaiku, dan menerimaku apa adanya. Kamu menjadikan aku perempuan paling bahagia di dunia.
Ketika bertemu denganmu, aku berharap kamulah yang menjadi superheroku, kamu yang akan membuat orang-orang yang mencoba menggodaku mundur, kamu yang membuat aku menjadi pemberani karena kamu melindungiku.  Aku juga berharap bahwa aku akan merasa aman dan nyaman bersamamu, tidak merasa takut apa-apa lagi bahkan takut ketika perjalananku terasa berat untuk di lanjutkan.
Kamu harus tau, aku menaruh sejuta harapanku padamu, entah siapa kamu.

Jumat, 31 Maret 2017

Good Bye...

"Lepaskan, ikhlaskan.. Dan kamu akan merasa lebih tenang"
Suatu waktu aku mengirim sebuah pesan untuk minta tolong kepada salah satu teman terdekatku,
"Aku mau ke surabaya, kamu bisa mengantarku ke juanda airport kalo aku disana?"
Beberapa detik kemudian dia membalas, aku tau pasti dia sangat kepo kenapa aku ingin ke bandara.
Ting
"Mau ngapain ke juanda?"
Tuh kan bener...
"Ingin menyeleselaikan masa lalu. Aku ceritain lebih detil kalo sudah disana deh. Kamu bisa gak?"
"Iya aku usahain bisa"
Akhirnya hari senin aku berangkat ke Surabaya. Aku akan ke bandara hari selasa malam, tgl 3 januari karena tepat 2 tahun yang lalu aku memulai masalah yang akan aku selesaikan ini. Ya, masalahku adalah... Jatuh cinta padamu, bahkan pada pandangan pertama. 
Juanda airport, 3 januari 2017, pukul sembilan belas lebih sembilan belas.
Aku berdiri dimana dua tahun yang lalu aku berkeliaran di sekitaran sini dengan perasaan bahagia juga sedih pada saat yang bersamaan.
Beberapa menit aku diam saja disana, memperhatikan keadaan sekitar dan mengingat yang terjadi 2 tahun yang lalu.
"2 tahun yang lalu aku jatuh cinta sama seseorang disini Han, di waktu yang sama pula. Aku bertemu dengannya, tak sempat berbicara dengannya tapi aku uda suka sama dia, waktu itu aku berharap setelah dia kembali dari perjalanannya kita akan berjumpa lagi, kita akan kenal, dan kamu tau kan yang aku inginkan setelah perkenalan? Tapi ternyata aku belum pernah bertemu dengannya lagi sejak saat itu. Awalnya aku masih menunggu, kali aja kita dipertemukan kembali tanpa sengaja. Ketika waktu terus berjalan dan masih belum ada keajaiban, akhirnya aku rasa cukup....... Dan sekarang, aku ingin membuang perasaan itu, melupakannya, mungkin untuk selamanya. Oleh karena itu, aku datangi tempat ini, mengingat semuanya, dan akan membuang semuanya juga di tempat ini. Semoga caraku yang ini berhasil, setelah selama 1 tahun lebih aku masih mengingatnya. Aku menoleh ke Hani. Dia diam saja mendengarkanku.
Tanpa di minta aku menceritakan semuanya dari awal sampai akhir kepada Hani, teman dekatku yang malam ini mengantarku kesini. Hani sangat mengerti aku, dia membiarkanku, memberiku waktu untuk menyelesaikan masalahku, sendiri.
"Pulang yuk, Han"
"Yakin? Kau sudah menyelesaikan masalah masa lalumu?"
Aku mengangguk.
Masa laluku sudah selesai sekarang. Dan setelah ini, aku tidak akan mengingatnya lagi, tidak akan mencari tau tentangnya lagi. Cukup Han, sudah cukup buat aku. Suaraku yang terakhir terdengar lebih serak.
Hani memelukku, tapi dia tidak bilang apa-apa. Hani tau, cuma memberi nasehat dan kata-kata motivasi untukku saat ini tidaklah terlalu penting. Dan dia benar, aku lebih tenang ketika dia memelukku.
"Yuk, pulang" aku mengusap air mataku dan memperbaiki posisi tasku.
"Iya" Jawab Hani sambil mengangguk.
Kamipun berjalan ke arah tempat parkir.
Motor Hani melaju meninggalkan bandara. Setelah melewati pintu keluar bandara, aku menoleh ke belakang, lalu mengucapkan good bye yang dibawa oleh angin berhembus entah kemana.
*baru sempat di posting karena obrak-abrik isi note book dan nemu tulisan ini. Latepost banget ya

Rabu, 18 Januari 2017

Dia yang menangis paling keras ketika berpisah, dia juga yang menangis paling seru ketika bertemu

Melihat tingkah adik perempuanku, aku menyadari bahwa menangis bukanlah melulu tanda kesedihan, tapi juga tanda kebahagiaan. Adik perempuanku itu memang anak paling bungsu di keluargaku, tau sendiri kan anak bungsu identik dengan apa? Manja, kekanak-kanakan, cengeng, kurang lebihnya seperti itu. 2 bulan yang lalu, dia menangis luar biasa ketika melihat keponakan cowoknya yang baru berumur empat bulan (anakku) dan aku beserta suamiku akan kembali ke Surabaya. Ya, kami memang merantau ke Surabaya. Tambahan lagi, adikku itu sudah bisa di bilang mulai tumbuh dewasa, dia sedang menempuh semester 2 di sebuah universitas swasta di kota kami tinggal. Sebagai sesama cewek, aku merasakan apa yang dirasakan adikku itu, bagaimana tidak, dari lahirnya keponakannya ini sampe empat bulan pada saat itu dia tau perkembangan keponakannya, wajar saja jika dia sedih ketika ditinggal balik. Sebenarnya yang sedih saat itu juga bukan dia saja, akupun begitu, merasa sedih luar biasa  ketika harus balik, duh.. empat bulan dirumah berhasil membuat memori yang berat untuk dilupakan. However, home is the best and the most comfortable place ever and never. Ibu apalagi, sosok yang selalu aku rindukan ketika berada jauh dari rumah. (Hello, kenapa jadi saya yang baper, baiklah... Kembali lagi masalah adikku yang tadi)

Hari ini, dia kesini, mengunjungi kami di Surabaya. Jangan salah, walaupun adikku anak bungsu dan cengeng atau apalah namanya, tapi dia juga berani loh ke Surabaya seorang diri. Dan hari ini, setelah mencuci kaki di kamar mandi setelah perjalanan jauh, dia segera mencium keponakannya sambil menangis sesenggukan, sampai apa yang dia omongkan tidak terdengar jelas. Apakah itu tanda kesedihan? Tentu saja tidak. And everyone knows it. Itu adalah tanda kebahagiaan yang tak terkira. Bahkan aku juga sampai ikut menangis, teringat saat merawat anakku ketika masih dirumah.

Dari artikel online yang pernah aku baca, menangis adalah respon alami terhadap perasaan tertentu. Biasanya karena sedih atau kesakitan, tapi terkadang juga karena alasan lain yang melebihi itu.  Jadi, menangis tidak selalu berarti kesedihan, terlalu bahagia atau terharu pun kadang juga membuat seseorang mengeluarkan air mata.
Air mata tak selalu menandakan bahwa seseorang itu lemah, dia punya banyak arti, termasuk sedih, sakit, bahagia, terharu bahkan lucu. Oleh karena itu, let me say that air mata adalah teman yang paling setia, paling pengertian, dan paling jujur dalam kondisi apapun. Bahkan, kita akan merasa sangat puas ketika sudah mengeluarkan air mata, entah karena sedih atau bahagia. Right? 

*based on someone's true story.

Senin, 28 November 2016

Mereka dan Cita-citanya

Hari ini sebenarnya sedang badmood sekali, tadi pagi sebelum berangkat ke sekolah berdoa semoga tidak ada guru yang absen jadi aku bisa bebas tugas, tapi yang terjadi justru malah sebaliknya. Ya, senin adalah MONster DAY, dan punya piket jaga pas hari senin juga sering banyak kerjanya daripada free nya. Tapi, tadi badmoodku mendadak hilang ketika masuk kelas 4, entahlah... Aku suka melihat kekompakan anak-anak kelas 4 MI ini. Mereka kompak menata ruang kelas menjadi se-kreatif mungkin, membuat dan menjalankan aturan kelas sesuai kesepakatan mereka, melakukan sesuatu ketika pelajaran kosong--seperti menggambar, diskusi atau sekedar ngobrol, dan kompak membangkang bersama-sama. Yang terakhir tidak menyenangkan didengar memang. Hehee. Meskipun begitu, kelas yang berisi 19 anak  ini rata-rata tergolong cukup pintar dan mudah faham untuk menerima pelajaran.

Setelah membahas sedikit materi di LKS, entah kenapa tiba-tiba pembicaraan kita menjadi tentang cita-cita, karena masih ada waktu yang agak lama sebelum jam istirahat, akhirnya aku gunakan untuk bertanya tentang cita-cita mereka. Jawaban mereka bermacam- macam, ada yang ingin menjadi dokter, polisi, kyai, pejabat, guru dan lain-lain. Ahya namanya, cowok yang selalu mendapat peringkat 1 dikelasnya itu bercita-cita ingin menjadi DPR, menurutku dia menjawab seperti itu karena ayahnya saat ini menjabat sebagai DPR Daerah. Lalu Avin, cowok yang gak kalah pintar plus paling ganteng, awalnya dia bingung mau jawab apa ketika ku tanya tentang cita-citanya, setelah mendengar jawaban Ahya, dia mengangkat tangannya lalu bilang, “bu, cita-citaku ingin menjadi guru”. Seperti Ahya, mungkin dia ingin menjadi guru karena saat ini ayahnya adalah seorang kepala sekolah di sebuah Sekolah Menengah Pertama.
Satu hal yang membuatku bahagia ketika mendengar  cita-cita anak-anak kelas 4 ini. Meskipun mayoritas pekerjaan orang tua mereka adalah petani, tapi mereka mempunyai cita-cita yang tinggi.
Ada satu anak yang menjawab berbeda tadi, ketika aku bertanya cita-citanya apa, dia menjawab polos ingin menjadi penjual ikan bandeng. “loh, kenapa ingin menjadi penjualnya? Kenapa bukan menjadi bos nya saja?” tanyaku. Lalu, aku maju ke depan dan berkata kepada semuanya bahwa cita-cita itu harus yang tinggi, karena cita-cita adalah doa. Lalu anak yang awalnya bercita-cita ingin menjadi penjual bandeng tadi berkata lagi, “bu, bu... Iya bu, aku ingin menjadi bos nya para penjual ikan bandeng”. Aku tersenyum dan mengarahkan jempol kananku kepadanya yang waktu itu duduk dibangku belakang.

Seketika aku teringat tentang cita-cita Ahya dan Avin, “nak, mungkin saat ini kalian bercita-cita ingin menjadi seperti orang tua kalian, tapi suatu saat kalian akan tau bahwa cita-cita kalian adalah milik kalian, bukan atas rasa ingin meniru orang tua kalian. Suatu saat nanti, kalian akan sadar cita-cita sejati kalian...” batinku. “bu, istirahat”, suara seorang siswa membuyarkan lamunanku. Sebelum membiarkan mereka keluar kelas, ku beri mereka sedikit nasehat tentang manfaat cita-cita yang telah mereka sampaikan agar mereka menjadi lebih giat belajar untuk menggapai cita-cita mereka.

Good luck, guys :)

Sabtu, 08 Oktober 2016

My Saturday Night

Memang, taman kota ini selalu ramai di malam hari, khususnya ketika weekend seperti ini. Aku duduk di bawah sebuah pohon yang tak terlalu besar yang berada tak jauh dari taman itu. Sendirian? Tentu saja!
Ku pandangi keadaan di sekitarku, di dekat air mancur yang tak jauh dari tempatku duduk, ku lihat sepasang muda mudi sedang asyik bercanda, terlihat sekali rona merah pipi si gadis, mungkin pria-nya pandai sekali menggombalinya, agak jauh dari air mancur terlihat sepasang kekasih sedang bergandengan tangan, si cewek dengan kaos feminim, hot pants dan topi miring, si cowok dengan kaos oblong dan celana jeans, di depan mereka ada segerombolan orang-orang yang sedang menonton atraksi dance battle, dan sepertinya cewek itu juga anggota dance battle itu. Di sisi lain, di sebelah kananku ada segerombolan remaja, putra putri yang sedang asyik bercengkerama, berdiskusi entah apa, lalu ku lihat sepasang cewek sedang berjalan dari tempat parkir, satu dari mereka sedang asyik dengan handphonenya hingga mengabaikan teman yang berada disebelahnya yang sedang bercerita, mungkin mereka adalah korban LDR, di seberang jalan, di sebuah kafe kecil, dari balik jendela kaca terlihat sosok lelaki dan perempuan yang sedang menikmati minumnya, si perempuan tampak anggun dengan hijab syar’i nya, aku yakin mereka bukan pasanan suami istri, karena ku lihat sesekali masing-masing dari mereka menundukkan kepala untuk menjaga pandangan.
Ahh kenapa taman ini kebanyakan berisi orang-orang yang berpasangan? Aku mengusap mukaku dengan kedua tangan. Malam ini aku memutuskan datang ke tempat ini bermaksud untuk menenangkan pikiranku dari beberapa hal yang menggangguku, teman kost yang nyebelin, tugas yang menumpuk, hingga perasaan hati. Tapi aku gak menyesal datang ke tempat yang dipenuhi dengan orang yang berpasangan ini, meskipun aku tidak membawa pasangan, karena yang terpenting bagiku sekarang adalah aku bisa keluar dari asrama--untuk menghirup udara kebebasan, melupakan tugas sejenak dan mengembalikan mood yang sedang berantakan.
Meskipun disini aku juga tidak melakukan apa-apa, setidaknya aku bisa bahagia, because I create my own happiness.

Minggu, 13 Maret 2016

Menyederhanakan Cita-cita

Dulu sewaktu kecil, ketika ditanya tentang cita-cita, banyak dari kita yang menjawab ingin menjadi dokter, pilot, pramugari, astronot, polisi dan sebagainya. Ketika SMP kita sudah mulai bisa berfikir seperti “gimana mau jadi dokter kalau baru melihat darah saja sudah takut?” atau “tinggiku sepertinya tidak memungkinkan untuk menjadi pramugari”  atau “aku tidak ingin menjadi dokter, aku ingin menjadi guru saja karena menjadi guru itu lebih enak” dsb. Semakin tinggi sekolah, cita-cita menjadi lebih sederhana dan disesuaikan dengan bakat dan hobi yang dimiliki. Misalnya, ketika SMA suka dengan anak-anak kecil sehingga ingin menjadi guru, punya hobi melukis sehingga ingin menjadi pelukis dsb. Atau, sudah mulai berfikir logis seperti,” aku ingin menjadi guru, ingin mengajari anak didikku agar bisa membaca dan menulis, biar dapat pahala yang terus mengalir kalo besok akhirnya anak didikku menjadi anak yang terpelajar”. Hingga ketika kuliah, cita-cita menjadi sangat sederhana lagi, ingin menyelesaikan skripsi dan lulus tepat waktu, berapapun nilainya sudah tidak penting, yang penting lulus, mengingat sulitnya kalau mau bimbingan dan banyaknya revisi. Hehehe. Tentu saja itu bercanda, untuk anak-anak yang menempuh kuliah biasanya cita-citanya adalah setelah lulus langsung bisa dapat kerja, apapun itu. Meskipun tidak linear dengan jurusan yang telah dipilih sebelumnya. Yang penting dapat kerja, mengingat susahnya mencari pekerjaan. Daripada jadi pengangguran?

Mungkin alurnya memang seperti itu, ketika sudah dewasa semua bisa saja berubah. Yang dulu bercita-cita menjadi pelukis, ternyata setelah lulus kuliah di terima kerja di bank. Siapa tau?? Seakan ketika tumbuh dewasa seseorang hanya perlu berkomitmen dalam bekerja untuk mempunyai penghidupan yang layak.

Begitupun denganku, dulu aku juga punya cita-cita yang muluk, dan juga  menjadi semakin sederhana seiring aku bertambah dewasa. Beberapa bulan yang lalu, setelah lulus kuliah aku berencana untuk menetap di Surabaya dan mencari kerja menjadi guru disana (karena cita-citaku ingin menjadi guru) dan melanjutkan S2. Tapi ternyata Tuhan berencana lain, Dia mempertemukanku dengan beberapa kejadian yang memaksaku untuk tinggal di rumah (sementara) setelah lulus kuliah. Hingga akhirnya orang tua menghimbau agar aku tinggal di rumah saja dan tidak usah kembali ke Surabaya. Berat? Tentu saja. Shock? Iya. Tapi akhirnya ku turuti juga permintaan orang tuaku itu. Aku positive thinking saja bahwa ini memang sudah waktunya aku berbakti kepada orang tua setelah 10 tahun merantau, ada banyak hal juga yang harus aku pelajari dan perbaiki di kampung halaman agar aku menjadi lebih baik, juga dengan harapan semoga kampung halamanku menjadi lebih baik dengan pengalaman yang aku bawa dari Surabaya. 
Aku menyadari itu semua, bahwa aku tidak melulu harus menuruti ego dan ambisiku. Cita-citaku menjadi lebih sederhana sekarang, ingin bermanfaat di kampung halaman. Bahkan saat ini, ketika ditanya tentang ingin melanjutkan ke S2 atau tidak, aku lebih memilih untuk mencari pengalaman kerja dulu, meskipun cita-cita untuk melanjutkan S2 masih ada.

Begitulah, meskipun cita-cita menjadi semakin sederhana, bukan berarti kita gagal menggapai cita-cita kita, bukan berarti kita tidak kuat untuk mewujudkan cita-cita atau mimpi-mimpi kita. Tapi, kita mempertimbangkan hal-hal yang lebih bermanfaat yang ada di lingkungan sekitar kita, dan berusaha untuk membantu memperbaikinya. Bukankah sebaik-baik kita adalah yang bermanfaat untuk orang lain? Pun, ketika kita bisa membuat orang lain bahagia, kita sendiri juga akan ikut merasa bahagia. So, jangan pernah gengsi ketika kamu harus menyederhanakan cita-cita atau mimpi!! :))