Lalu, bagaimana jika istrimu adalah seorang pecinta sepak bola?
"Bagi dunia kau mungkin hanya seseorang, tapi bagi seseorang kau bisa saja dunianya". Dr. Seuss
Minggu, 24 September 2017
Jika Istrimu Adalah Seorang Pecinta Sepak Bola
Lalu, bagaimana jika istrimu adalah seorang pecinta sepak bola?
Sabtu, 22 Juli 2017
Untukmu, Seseorang Yang Kelak Menjadi Partner Hidupku
Aku hanya ingin menjadi lebih baik, lebih percaya diri, lebih berwawasan, lebih pandai bersosialisasi, lebih dewasa, lebih bijaksana sehingga aku akan pantas bersanding denganmu.
Lalu, orang tuaku berusaha mengenalkanku dengan seseorang, tapi caranya menyakitkanku. Aku benar-benar hancur saat itu, saat aku merasa menjadi boneka, ditambah lagi ketika yang di kenalkan kepadaku pun terlalu cepat mengambil kesimpulan bahwa aku telah menerimanya. Ah, aku tidak perlu menceritakannya dengan detil masalah ini disini, kan?
Jumat, 31 Maret 2017
Good Bye...
"Aku mau ke surabaya, kamu bisa mengantarku ke juanda airport kalo aku disana?"
Beberapa detik kemudian dia membalas, aku tau pasti dia sangat kepo kenapa aku ingin ke bandara.
Ting
"Mau ngapain ke juanda?"
Tuh kan bener...
"Ingin menyeleselaikan masa lalu. Aku ceritain lebih detil kalo sudah disana deh. Kamu bisa gak?"
"Iya aku usahain bisa"
Beberapa menit aku diam saja disana, memperhatikan keadaan sekitar dan mengingat yang terjadi 2 tahun yang lalu.
"2 tahun yang lalu aku jatuh cinta sama seseorang disini Han, di waktu yang sama pula. Aku bertemu dengannya, tak sempat berbicara dengannya tapi aku uda suka sama dia, waktu itu aku berharap setelah dia kembali dari perjalanannya kita akan berjumpa lagi, kita akan kenal, dan kamu tau kan yang aku inginkan setelah perkenalan? Tapi ternyata aku belum pernah bertemu dengannya lagi sejak saat itu. Awalnya aku masih menunggu, kali aja kita dipertemukan kembali tanpa sengaja. Ketika waktu terus berjalan dan masih belum ada keajaiban, akhirnya aku rasa cukup....... Dan sekarang, aku ingin membuang perasaan itu, melupakannya, mungkin untuk selamanya. Oleh karena itu, aku datangi tempat ini, mengingat semuanya, dan akan membuang semuanya juga di tempat ini. Semoga caraku yang ini berhasil, setelah selama 1 tahun lebih aku masih mengingatnya. Aku menoleh ke Hani. Dia diam saja mendengarkanku.
Tanpa di minta aku menceritakan semuanya dari awal sampai akhir kepada Hani, teman dekatku yang malam ini mengantarku kesini. Hani sangat mengerti aku, dia membiarkanku, memberiku waktu untuk menyelesaikan masalahku, sendiri.
"Pulang yuk, Han"
"Yakin? Kau sudah menyelesaikan masalah masa lalumu?"
Aku mengangguk.
Masa laluku sudah selesai sekarang. Dan setelah ini, aku tidak akan mengingatnya lagi, tidak akan mencari tau tentangnya lagi. Cukup Han, sudah cukup buat aku. Suaraku yang terakhir terdengar lebih serak.
Hani memelukku, tapi dia tidak bilang apa-apa. Hani tau, cuma memberi nasehat dan kata-kata motivasi untukku saat ini tidaklah terlalu penting. Dan dia benar, aku lebih tenang ketika dia memelukku.
"Yuk, pulang" aku mengusap air mataku dan memperbaiki posisi tasku.
"Iya" Jawab Hani sambil mengangguk.
Kamipun berjalan ke arah tempat parkir.
Rabu, 18 Januari 2017
Dia yang menangis paling keras ketika berpisah, dia juga yang menangis paling seru ketika bertemu
Melihat tingkah adik perempuanku, aku menyadari bahwa menangis bukanlah melulu tanda kesedihan, tapi juga tanda kebahagiaan. Adik perempuanku itu memang anak paling bungsu di keluargaku, tau sendiri kan anak bungsu identik dengan apa? Manja, kekanak-kanakan, cengeng, kurang lebihnya seperti itu. 2 bulan yang lalu, dia menangis luar biasa ketika melihat keponakan cowoknya yang baru berumur empat bulan (anakku) dan aku beserta suamiku akan kembali ke Surabaya. Ya, kami memang merantau ke Surabaya. Tambahan lagi, adikku itu sudah bisa di bilang mulai tumbuh dewasa, dia sedang menempuh semester 2 di sebuah universitas swasta di kota kami tinggal. Sebagai sesama cewek, aku merasakan apa yang dirasakan adikku itu, bagaimana tidak, dari lahirnya keponakannya ini sampe empat bulan pada saat itu dia tau perkembangan keponakannya, wajar saja jika dia sedih ketika ditinggal balik. Sebenarnya yang sedih saat itu juga bukan dia saja, akupun begitu, merasa sedih luar biasa ketika harus balik, duh.. empat bulan dirumah berhasil membuat memori yang berat untuk dilupakan. However, home is the best and the most comfortable place ever and never. Ibu apalagi, sosok yang selalu aku rindukan ketika berada jauh dari rumah. (Hello, kenapa jadi saya yang baper, baiklah... Kembali lagi masalah adikku yang tadi)
Hari ini, dia kesini, mengunjungi kami di Surabaya. Jangan salah, walaupun adikku anak bungsu dan cengeng atau apalah namanya, tapi dia juga berani loh ke Surabaya seorang diri. Dan hari ini, setelah mencuci kaki di kamar mandi setelah perjalanan jauh, dia segera mencium keponakannya sambil menangis sesenggukan, sampai apa yang dia omongkan tidak terdengar jelas. Apakah itu tanda kesedihan? Tentu saja tidak. And everyone knows it. Itu adalah tanda kebahagiaan yang tak terkira. Bahkan aku juga sampai ikut menangis, teringat saat merawat anakku ketika masih dirumah.
Dari artikel online yang pernah aku baca, menangis adalah respon alami terhadap perasaan tertentu. Biasanya karena sedih atau kesakitan, tapi terkadang juga karena alasan lain yang melebihi itu. Jadi, menangis tidak selalu berarti kesedihan, terlalu bahagia atau terharu pun kadang juga membuat seseorang mengeluarkan air mata.
Air mata tak selalu menandakan bahwa seseorang itu lemah, dia punya banyak arti, termasuk sedih, sakit, bahagia, terharu bahkan lucu. Oleh karena itu, let me say that air mata adalah teman yang paling setia, paling pengertian, dan paling jujur dalam kondisi apapun. Bahkan, kita akan merasa sangat puas ketika sudah mengeluarkan air mata, entah karena sedih atau bahagia. Right?
*based on someone's true story.
Senin, 28 November 2016
Mereka dan Cita-citanya
Hari ini sebenarnya sedang badmood sekali, tadi pagi sebelum berangkat ke sekolah berdoa semoga tidak ada guru yang absen jadi aku bisa bebas tugas, tapi yang terjadi justru malah sebaliknya. Ya, senin adalah MONster DAY, dan punya piket jaga pas hari senin juga sering banyak kerjanya daripada free nya. Tapi, tadi badmoodku mendadak hilang ketika masuk kelas 4, entahlah... Aku suka melihat kekompakan anak-anak kelas 4 MI ini. Mereka kompak menata ruang kelas menjadi se-kreatif mungkin, membuat dan menjalankan aturan kelas sesuai kesepakatan mereka, melakukan sesuatu ketika pelajaran kosong--seperti menggambar, diskusi atau sekedar ngobrol, dan kompak membangkang bersama-sama. Yang terakhir tidak menyenangkan didengar memang. Hehee. Meskipun begitu, kelas yang berisi 19 anak ini rata-rata tergolong cukup pintar dan mudah faham untuk menerima pelajaran.
Setelah membahas sedikit materi di LKS, entah kenapa tiba-tiba pembicaraan kita menjadi tentang cita-cita, karena masih ada waktu yang agak lama sebelum jam istirahat, akhirnya aku gunakan untuk bertanya tentang cita-cita mereka. Jawaban mereka bermacam- macam, ada yang ingin menjadi dokter, polisi, kyai, pejabat, guru dan lain-lain. Ahya namanya, cowok yang selalu mendapat peringkat 1 dikelasnya itu bercita-cita ingin menjadi DPR, menurutku dia menjawab seperti itu karena ayahnya saat ini menjabat sebagai DPR Daerah. Lalu Avin, cowok yang gak kalah pintar plus paling ganteng, awalnya dia bingung mau jawab apa ketika ku tanya tentang cita-citanya, setelah mendengar jawaban Ahya, dia mengangkat tangannya lalu bilang, “bu, cita-citaku ingin menjadi guru”. Seperti Ahya, mungkin dia ingin menjadi guru karena saat ini ayahnya adalah seorang kepala sekolah di sebuah Sekolah Menengah Pertama.
Satu hal yang membuatku bahagia ketika mendengar cita-cita anak-anak kelas 4 ini. Meskipun mayoritas pekerjaan orang tua mereka adalah petani, tapi mereka mempunyai cita-cita yang tinggi.
Ada satu anak yang menjawab berbeda tadi, ketika aku bertanya cita-citanya apa, dia menjawab polos ingin menjadi penjual ikan bandeng. “loh, kenapa ingin menjadi penjualnya? Kenapa bukan menjadi bos nya saja?” tanyaku. Lalu, aku maju ke depan dan berkata kepada semuanya bahwa cita-cita itu harus yang tinggi, karena cita-cita adalah doa. Lalu anak yang awalnya bercita-cita ingin menjadi penjual bandeng tadi berkata lagi, “bu, bu... Iya bu, aku ingin menjadi bos nya para penjual ikan bandeng”. Aku tersenyum dan mengarahkan jempol kananku kepadanya yang waktu itu duduk dibangku belakang.
Seketika aku teringat tentang cita-cita Ahya dan Avin, “nak, mungkin saat ini kalian bercita-cita ingin menjadi seperti orang tua kalian, tapi suatu saat kalian akan tau bahwa cita-cita kalian adalah milik kalian, bukan atas rasa ingin meniru orang tua kalian. Suatu saat nanti, kalian akan sadar cita-cita sejati kalian...” batinku. “bu, istirahat”, suara seorang siswa membuyarkan lamunanku. Sebelum membiarkan mereka keluar kelas, ku beri mereka sedikit nasehat tentang manfaat cita-cita yang telah mereka sampaikan agar mereka menjadi lebih giat belajar untuk menggapai cita-cita mereka.
Good luck, guys :)
Sabtu, 08 Oktober 2016
My Saturday Night
Meskipun disini aku juga tidak melakukan apa-apa, setidaknya aku bisa bahagia, because I create my own happiness.
Minggu, 13 Maret 2016
Menyederhanakan Cita-cita
Begitulah, meskipun cita-cita menjadi semakin sederhana, bukan berarti kita gagal menggapai cita-cita kita, bukan berarti kita tidak kuat untuk mewujudkan cita-cita atau mimpi-mimpi kita. Tapi, kita mempertimbangkan hal-hal yang lebih bermanfaat yang ada di lingkungan sekitar kita, dan berusaha untuk membantu memperbaikinya. Bukankah sebaik-baik kita adalah yang bermanfaat untuk orang lain? Pun, ketika kita bisa membuat orang lain bahagia, kita sendiri juga akan ikut merasa bahagia. So, jangan pernah gengsi ketika kamu harus menyederhanakan cita-cita atau mimpi!! :))